Tantangan Seorang Perfeksionisme




Prompt: Apa saja tantangan terbesar Anda?

Aku punya keinginan menaklukkan dunia di bawah kakiku, tapi aku terlalu perfeksionis. Aku ingin timingnya tepat, performa 100 persen, suasananya mendukung produktivitas dan tidak ada beban hidup yang sedang kualami saat itu. Kesemua harapan tersebut secara realistis tidak akan pernah terwujud selama bumi masih berputar. Maka kupilih untuk mengorbankan semuanya dan membabat habis perfeksionis sampai gundul.

Apakah aku berhasil?

Belum. Tantangan utama berupa perfeksionis tadi masih saja berusaha untuk tampil, nyempil diantara kata-kata yang hendak keluar.

Seperti sekarang, hehe. Dia bilang tulisanku buruk, bahasanya amburadul, susunan kalimatnya kacau. Aku disuruhnya untuk berhenti dan menulis di waktu bumi sedang terlelap.

Jujur saja, aku sudah pernah mengikuti sarannya. Dengan kekuatan mata 5 watt, aku menulis. Berderik-derik kata yang keluar dari otakku seperti laci jadul yang dipaksa terbuka oleh bayi 1 tahun. Bagaimana mungkin aku bisa menulis di waktu energi tinggal remah-remahnya saja?

Kalau saja perfeksionis ini hanya hadir di waktu aku menulis, aku tidak perlu menyebutkannya sebagai tantangan terbesar. Sayangnya dia juga ingin diakui dalam berbagai lini kehidupanku. Relasi pernikahan, pengasuhan anak, hubungan keluarga, bahkan ibadah pula!

Dengarkan ya, si perfeksionis ini sering banget bisikin aku, kalau mau shalat dhuha sebaiknya tunggu sampai semua pekerjaan rumah selesai–yang sebenarnya tidak pernah ada ujungnya-. Biar pas shalat khusyuk, enggak ada mikir kompor masih nyala. Mau shalat lail, tunggu sampai tidak mengantuk–sumpah ini yang paling jauh-. Supaya nanti saat shalat enggak sempoyongan minta buru-buru selesai. Mau puasa–mesti pastikan tidak ada aktivitas keluar rumah baru bisa puasa-. Jadi puasanya enggak capek karena tidak terpapar panas matahari. Panas itu bisa menguapkan cairan tubuh jadi jangan sekali-kali deh!

Hah!

Perfeksionis dan bisikan halus syaitan jadi tipis perbedaannya. Atau mereka berdua sebenarnya adalah kawan akrab yang sepakat untuk bekerja sama menghancurkan cita-cita muliaku.

Nah, setelah ku-cek baik-baik, rupanya kakiku tidak bisa menutupi bumi. Jadi, kuputuskan untuk menurunkan ekspektasi, mengikis perfeksionis dengan menargetkan, minimal aku masih menjajaki bumi dengan badan tegap karena menang melawan si tantangan terbesar, biidznillah!


Lebih lamaTerbaru