Prompt: Sesuatu di “daftar rencana” yang tidak pernah terealisasikan.
Sesuatu berarti satu saja kah? Soalnya aku punya segudang rencana yang tidak pernah terealisasikan. Setidaknya sampai saat ini.
Kalau hanya boleh milih satu, aku akan memilih yang paling kuinginkan tapi ‘nampaknya’ sulit untuk terealisasikan.
Kuliah di Jepang atau New Zealand.
Berdasarkan cita-citaku yang pernah aku ceritakan disini, negara yang paling memperhatikan kualitas pendidikannya adalah dua negara tersebut. Aku ingin sekali belajar langsung disana, melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana pendidikan menjadi poros utama dalam pembangunan negara.
Ya, keinginanku untuk kuliah disana memang berangkat dari kegelisahan melihat kualitas sekolah dasar di luar pulau Jawa. Kebanyakan lebih bersifat formalitas, bukan dengan tujuan membentuk manusia bertuhankan Allah yang Maha Esa sehingga menjadi berakal dan beradab. Segalanya terbilang percuma kalau aku boleh mengatakannya seperti itu.
Justru di waktu bermain—tanpa gadget, anak-anak lebih mampu memaksimalkan potensi mereka dibanding dalam ruang kelas. Padahal, ¼ waktunya berputar disana selama 6 tahun ke depan. Namun yang terjadi di kebanyakan sekolah, ruang kelas hanyalah tempat menghafal bukan belajar.
Kukatakan menghafal bukan belajar, karena usia sekolah dasar seharusnya menjadi tempat pembentukan pola pikir dan karakter anak. Keduanya tak bisa diinstal begitu saja dengan menghafal bermacam-macam teori. Bahkan materi pelajaran Seni dan Olahraga saja, yang notabene menuntut kegiatan fisik, direduksi menjadi hafalan teori saja! Bagaimana anak-anak bisa mendapat ‘pembelajaran’ kalau begitu?
Akibatnya, jamak terjadi, seusai sekolah dasar, banyak anak kehilangan minat untuk belajar atas kemauan sendiri. Belajar dipandang sebagai ajang memamerkan hasil. Jadi, bagi yang tak berminat pada kompetisi tersebut atau memiliki kekurangan dalam mengolah ilmu akademik, secara teratur mereka menghapuskan diri dari ruang kelas.
Tidur di pojok belakang, sembunyi ke kantin, tidak hadir sekolah berbulan-bulan. Lah, untuk apa sekolah kalau mereka tak mengerti makna belajar sebenarnya? Inilah yang seharusnya ditanamkan pada usia sekolah dasar. Bahwa belajar seharusnya menyenangkan! Belajar semestinya menggairahkan!
Hm. Aku memang ribut sekali soal ini. Namun, keilmuanku sebatas ilmu PAUD saja. Itupun tak sepenuhnya ‘bermanfaat’ ketika akhirnya aku terjun di lapangan. Lihatlah, selain sekolah dasar kita yang kacau, universitas kita pun juga sama hancurnya. Padahal kampus negeri. Hiks.
Karena itulah aku ‘pernah berencana’ untuk kuliah di salah satu negara tersebut. Jepang sudah terkenal dengan pendidikan dasarnya yang benar secara kaidah keilmuan. Sesuai dengan tujuan sekolah dasar itu sendiri, yaitu membentuk manusia yang siap dengan kehidupan sosial.
Fokus mereka adalah adab, tanggung jawab dan kebersamaan sejak dini. Anak-anak tidak diminta bertanding satu lawan satu, melainkan satu tim dengan satu tim lain. Kerja sama sebelum rivalitas. Olah fisik sebelum olah otak.
Sedangkan New Zealand terkenal oleh tingkat literasinya yang tinggi. Padahal, waktu istirahat mereka lebih banyak dari berbagai sekolah di dunia ini. Dan ternyata, pemerintah disana memberikan ‘fasilitas alam’ dan alat bermain fisik beragam.
Keduanya amat sesuai dengan jalan hidup yang ingin kutempuh. Namun, aku terhalang oleh kondisi hijabku. Hijab dengan penutup wajah membuatku tak yakin bisa berbaur dengan orang-orang dari negeri non Muslim.
Aku tahu seharusnya itu bukan penghalang, namun, cita-cita itu masih belum mampu menutupi mentalku yang lemah. Aku takut, terutama aku belum pandai pula dalam berbicara depan orang banyak.
Mungkin saja, setelah aku menguasai kemampuan itu, aku bisa lebih percaya diri yang menimbulkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Kalau tadi kukatakan nampaknya sulit terealisasikan, mungkin saja bisa. Atau pasti bisa! Rencana kuliah di Jepang atau New Zealand pasti bisa dengan niat sungguh-sungguh dan doa kedua orangtua. Eh tambahkan pula doa restu suami.

