Kita Butuh Dialog, Bukan Sekedar Ngomong



Selama ini, aku mengira bahwa pernikahan akan aman asal kami terus saling bercakap-cakap. Membicarakan hal-hal fungsional sesekali diselingi candaan, pujian atau ekspresi kasih sayang. Yang fungsional itu seperti,
👠”Tolong dong bantu aku urus anak.”
👞”Oke.”
👠”Temani anak kita main dulu ya. Aku mau ke WC.”
👞”Baiklah.”
👠”Hari ini agenda kamu apa?”
👞”Banyak. Setelah ini, aku harus itu. Jadi mungkin malam baru pulang.”

Seperti yang terpampang jelas di atas, seringnya, perempuan lah yang berinisiatif membuka obrolan. Meski jadinya seperti interogasi saja. Memang adakalanya laki-laki juga yang melempar umpan— terutama jika ada hal penting, namun untuk sebuah hubungan jangka panjang, sekedar ngomong seperti ini saja amat tidak cukup.

Pertengkaran dapat tetap terjadi meski sudah saling menyayangi lewat komunikasi yang dijaga. Kalau sekedar debat kusir, mungkin bisa dianggap variasi rumah tangga. Tapi, sampai beradu mulut dengan suara tinggi, nafas ngos-ngosan, rasanya itu bukan variasi. Ia isyarat adanya luka yang belum diobati.

Luka itu berupa pesan menyakitkan yang tidak tersampaikan. Pesan-pesan yang kalau didengar pasangan, mungkin memicu rasa tidak nyaman, sehingga tak mungkin luka tersebut dapat disodorkan begitu saja sambil lalu.

Ada harga diri yang terluka bila didengar. Ada ego yang tersakiti saat mengetahui bahwa pasangan terluka oleh perbuatannya. Ada rasa kecewa pada diri sendiri yang berujung memandang diri telah gagal sebagai sosok yang berarti.

Namun sayang, luka yang menganga tak bisa dipaksa sembuh seketika. Jadilah, yang terluka berusaha melilitnya dengan perban bernama mengingat kebaikan pasangan. Sebenarnya bagus, cuma bukan untuk itu fungsi mengingat kebaikan pasangan. Kita bisa mengingat kebaikannya saat terganggu dengan hal-hal kecil yang dilakukannya, bukan untuk menjadi anti dot luka.

Ya, karena pesan berbentuk luka akan mencari jalan keluarnya sendiri. Bila tidak dikelola—semisal mengirimkan kode singkat tak suka secara berkelanjutan, akan menumpuk dan berujung pada ledakan.

Yang bikin ruwet, ledakan emosi tak pernah ditanggapi dengan lapang dada oleh lawan bicara. Mau bagaimana lagi, kan? Sudah ada campur tangan syaitan di situ. Semakin banyak kata-kata meluncur bebas, semakin terlukalah hati keduanya. Maka, mencegah lebih baik dari mengobati.

Pencegahan dengan dialog lebih baik daripada luka tersebut menjadi ledakan emosi. Meski kedengarannya tidak enak, yakinlah, itu hanya seperseribu rasa tak nyaman dari menunggu tabungan luka membludak.

Dialog yang aku maksud disini, adalah kesediaan untuk hadir sepenuh hati saat berbincang, tidak disambi dengan mengurus mesin cuci atau membalas pesan di WhatsApp. Yang terluka, sebaiknya menyampaikan pesan sejelas mungkin, tidak melebar sana sini, penuh adab dan kasih sayang, sehingga telinga pasangan tidak panas mendengarnya.

Kalaupun pesan itu tetap menyakitkan, ya mau bagaimana lagi. Namanya juga luka. Disinilah dibutuhkan kesediaan mendengar dan memahami maksud di balik kata sebelum membenarkan prasangka. Tak ada salahnya, kok, menanyakan pada pasangan apa yang membingungkan. Justru pasangan akan senang karena itu berarti pesan dia tersampaikan.

Sebenarnya, tak perlu menunggu luka untuk memulai dialog. Kita bisa menyediakan waktu khusus untuk membahas apapun. Namun pastikan, handphone tidak ada di sekitar agar setiap dari diri kita merasa dihargai lewat perhatian penuh.

Apa yang dibahas? Banyak! Ini contoh list-nya,

🎀Tujuan hidup dan nilai-nilai yang dianggap penting
🎀Harapan terhadap peran masing-masing di rumah
🎀Bahasa cinta atau bentuk perhatian yang amat dihargai
🎀Batasan-batasan pribadi
🎀Harapan jangka panjang tentang keluarga, pendidikan dan ritme hidup.

Kalau itu terlalu banyak untuk diingat, cukup asosiasikan dialog dengan ini; perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri, seperti jadwal, kebiasaan, nilai-nilai dan bahkan makanan kesukaan. 

Karena kita semua masih manusia yang hidup di dunia, selamanya kita akan mengalami perubahan, bahkan bila hanya tinggal di rumah saja. Ya, tak ada manusia yang hidupnya statis. Maka, mengenali sekecil apapun perubahan dalam ‘anggota keluarga’ adalah investasi untuk mengurangi masalah yang tidak perlu.