Uqbah adalah anak laki-laki kedua yang lahir tahun 2025 kemarin. Sekarang tak terasa, -sungguh!-, sudah 1 tahun, yang berarti Uqbah bukan bayi tak berdaya lagi.
Ada banyak yang ingin kuceritakan tentang Uqbah atau Babah, si bayi yang banyak mau disini. Perubahannya benar-benar mencolok dibanding dulu. Tentang kelekatan terutama.
Ya, mari kita bahas kelekatan dulu karena ini yang berhasil menjungkirbalikkan hidupku juga hidupnya.
Menjelang 1 tahun, kira-kira usia 10 atau 11 bulan, Babah mulai menolak orang lain. Dia tidak ingin terpisah dariku, bahkan ketika tak ada seorang pun yang mendekatinya. Barulah di hari ini -sujud syukur-, dia sudah mau bermain dengan kakaknya tanpa aku di sekitarnya.
Tentu perubahan Babah yang semakin lengket amat menyulitkanku. Banyak hal yang harus bisa kukompromi agar senantiasa wajar dan waras. Jujur, kewarasan adalah nomor 1 di fase anak 1 tahun. Soal kerapihan, kebersihan dan beragamnya jenis masakan, tak bisa kukejar dulu.
Sedang bagi Babah sendiri, kesadaran bahwa aku dan dirinya adalah dua makhluk terpisah, menimbulkan keresahan yang menyusahkan hatinya. Dia sebenarnya hendak mengeksplor tapi tak ingin sesenti pun jauh dari ibunya. Sepertinya dia begitu takut aku melakukan teleportasi atau aku melarikan diri saat dia lengah.
Karena itulah aku perlu sujud syukur—lagi, karena Babah sudah percaya, dirinya mampu menyeimbangkan tubuh saat berjalan. Selama sebulan terakhir, Babah terus berlatih. Kadang dia berhenti ketika dilihatnya harapan untuk bisa berjalan lebih lama, masih jauh dari pandangan.
Senangnya, huhu. Jujur, ada harapan fase lengket ini lebih singkat, melihat kemandiriannya dalam ‘mengolah’ benda dan mainan cukup mumpuni, jadi ya mungkin saja kan, aku lebih cepat berubah menjadi flamingo pink?
Atau tidak.
Oke, sebaiknya kita memang tidak berharap pada manusia -apalagi bayi!-. Tempat berharap satu-satunya cuma Allah, ingat! Babah memang sudah bisa jalan, tapi ananda shalehku itu belum bisa bicara. Belum dapat mengungkapkan kebutuhan dan keinginannya dengan jelas.
Jadi, ya, wajar-wajar saja bagiku bila Babah ‘tantrum’. Aku sebenarnya nggak mau bilang tantrum sih, sebab dia nangisnya nggak lama. Nggak ngamuk juga. Mudah dialihkan pula, alhamdulillah. Hanya saja karena dia tidak cuma nangis tapi melengkungkan badan sambil teriak ya itu sudah termasuk tantrum kan?
Alhamdulillah, catatan perkembangan Babah di usia tepat 1 tahun, selesai. Sehat selalu anak shalehku. Kami mencintaimu.

