Prompt: Ceritakan fase dalam hidup yang sulit Anda tinggalkan.
Apa lagi yang paling indah dan menyenangkan dari masa kecil? Tidak ada tekanan untuk menjadi sempurna buat seseorang. Tidak ada kewajiban untuk memenuhi hak seseorang.
Dalam pikiran kita hanya ada tentang kita sendiri, bagaimana membuat diri ini puas dan bahagia. Tentu ada keinginan menyenangkan orangtua juga tapi porsinya seringkali tak sebesar seperti sekarang.
Di masa kecilku dulu, aku tak mencemburui dunia. Yang kucemburui hanya snack lebih banyak dan perhatian orangtua. Selain keduanya, aku tak mempermasalahkan apa-apa. Sekarang, aku tak bisa lagi melihat sosial media sebab capaian orang membuatku terlihat mengecil.
Aku benci perasaan itu.
Aku benci harus memenuhi ekspektasi orang lain.
Aku benci harus menyesuaikan diri dengan mengorbankan nilai-nilai yang kupegang selama ini.
Inilah fase hidup yang amat sulit kutinggalkan. Setiap kali aku terpuruk, aku mengingat kembali betapa bahagianya masa kecilku. Mengingatnya bukan agar terhibur, tapi untuk membuat rasa sakit semakin perih, karena hey, bagaimana caranya agar aku bisa kembali memutar waktu?
Tak ada cara selain menghadapi yang sekarang terjadi.
Aku hidup di masa sekarang, bukan masa lalu apalagi masa depan. Jadi, meromantisasi masa lalu kemudian menangisinya karena hendak kembali, takkan merubah apapun yang terjadi di masa sekarang. Begitu juga memikirkan masa depan yang belum tentu terjadi.
Melihat fase hidup masa kanak-kanak hanya mendorongku untuk menyenangkan orangtuaku yang itu berarti aku rindu mereka, dan berakhir meratapi fase hidup sebagai istri dan ibu. Bukan berarti sekarang aku menderita haha, tapi ya memang lebih enak jadi anak-anak zaman dahulu.
Zaman anakku sekarang lebih berat terutama bila tinggal di kota luar Jawa. Tanah lapang tidak ada, fasilitas hiburan+pendidikan keluarga juga nihil. Kasihan sekali kota ini. Oke, ini melenceng dari judul.
Karena fase hidup kanak-kanak sulit kutinggalkan, aku jadi belajar untuk terus bergerak maju. Perlahan melepas kenangan yang merindukan demi hadir di masa sekarang. Hidupku bukan lagi berporos pada aku seorang, tapi aku semestinya merotasi Rabbku sambil menggandeng orang-orang yang kucintai.

