Tadabbur Ayat tentang Kebiasaan Makan


Ini ceritaku sewaktu pertama kali memasuki tahun 2026. Entah kapan atau lebih tepatnya apa sebab aku mulai keranjingan makan. Bukan makanan sehat tentunya.

Semua produk gula dan coklat selalu menggoda air liurku keluar. Demi menuntaskan nafsu tersebut, aku jadi rajin masak kue coklat. Kalau bahan membuat kue habis, aku mencukupkan diri dengan susu dingin bertabur Ceres. Nikmat banget ya Allah.

Hingga suatu hari, saat aku memperhatikan wajahku dengan saksama di cermin, aku terkejut melihat banyaknya bintik kecil yang muncul di sekitar dahi dan pelipis. Aku kaget sekali sampai mau nangis. Kukira kulit wajahku sudah resisten dengan jerawat dan kawan-kawannya, ternyata tidak sama sekali!

Setelah mengingat-ngingat kembali, rasanya aku sudah dapat teguran lewat serangan flu berkali-kali. Ya, benar. Saat itulah tubuhku sedang menyampaikan kondisinya yang tidak baik-baik saja akibat kebiasaan makanku yang buruk.

Aku segera menghentikan kebiasaan makan coklat berlebih. Produk gula juga mulai kukurangi walau masih kecolongan sesekali.
Selain itu, aku mencoba untuk makan lebih banyak sayur hijau dan berjuang untuk tidur lebih awal.

Aku tidak lagi memakan apa yang mau kumakan. Sekarang aku berusaha untuk makan penuh kesadaran. Makanan ini apakah bisa menguatkan tubuhku untuk beribadah?
Kasih sayang Allah padaku belum cukup sampai disitu. Hari ini, terjemahan Qur’an yang sedang kubaca, sampai di ayat 168 surah Al Baqarah.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ
Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.

Wah aku langsung merasa bahwa akulah yang dibicarakan di ayat ini. Aku tidak makan makanan yang baik. Karena itu aku lebih mudah terjerat godaan syaitan.

Waktu aku belum memperbaiki pola makanku, aku merasa sensitivitas imanku berkurang. Hatiku juga rusak. Aku terserang penyakit iri. Betapa aku tersiksa olehnya.

Iri membuatku tidak mampu menjangkau silaturahmi dengan teman-temanku. Iri membuatku mengasihani diri sendiri. Aku kehilangan rasa syukur dan itu sangat menyakitkan.

Allah memang benar. Dia sangat menyayangi kita. Lewat nafsu perut, syaitan merusak inti manusia. Lewat sesuatu yang kita anggap kebutuhan, repetitif dan banyak alasan logis untuk menyelamatkan nafsu, syaitan mengambil alih hati kita untuk mengikuti langkah-langkahnya.

Mengerikan.

Sekarang aku mengerti kenapa berpuasa adalah rezeki yang harus disyukuri.
Masih ada lagi gem yang kutemukan dalam ayat tadi. Allah sebut makanan halal dan baik di bumi.

Mengapa bumi? Kita tentu hanya mendapatkan makanan dari bumi kan? Tidak ada makanan dari planet lain, kurasa.
Dan kemudian pegawai-pegawai di otakku menyerahkan setumpuk berkas tentang ‘ultra processing food’. Yap. Menurutku ini nyambung sekali dengan keadaan kita zaman sekarang.