Radio dan Ibu


 

Prompt: Gambarkan benda yang begitu melekat dengan Anda semasa kecil. Bagaimana dampaknya pada Anda?

Aku lahir dari orangtua generasi X ketika perlahan teknologi mulai menginvasi dunia. Ibuku senang sekali mengoleksi kaset. Nakas dan laci riasnya penuh kaset nasyid, ceramah dan murottal. Sampai sekarang pun masih terawat di rumah nenek.

Tiap kali berpergian, Ibuku akan memutar nasyid anak-anak di mobil. Aku paling ingat ketika hendak ke Pare-Pare, mobil belum keluar dari garasi, aku sudah menyetel nasyid favoritku. Tanteku sampai tertawa melihatku bergoyang sambil menyanyikan nasyid tersebut.

Padahal mobil itu sempit, hanya ada 2 seat yang cukup lebar di belakang. Kalau waktu itu aku tidak pernah dimarahi karena berbuat keributan di mobil, bagaimana mungkin aku yang sekarang mengharapkan anak-anakku duduk tenang seperti lady selama perjalanan? Oke out of topic, haha. Sekalian instrospeksi diri :).

Ketika aku masuk usia SD, kami pindah ke kampung halaman Ayah. Tidak banyak kaset yang bisa Ibu bawa, sehingga selama di kampung, kami memuaskan diri dengan murottal Syekh as Sudais. Terutama saat adik-adikku harus kujaga kala ibu sedang menyiapkan makan malam. Radio dan kaset masih menjadi teman dekat kami hingga SD Card muncul.

Kehadirannya membuat kaset di rumah tidak terpakai lagi. Radio masih kadang jalan untuk mendengarkan siaran langsung, tapi kami lebih banyak memutar murottal dan nasyid anak-anak di hp Ibuku.

Waktu semakin berlalu. Kami tumbuh besar dan tidak lagi tinggal di kampung halaman Ayah. Adik-adikku tidak ada lagi yang memerlukan ‘lagu’ untuk meredakan keinginannya ditemani Ibu. Untuk sekian lama, aku tidak mendengarkan apapun lagi dari radio ataupun hp.

Hingga suatu hari, ketika aku sudah ‘menginjak Sekolah Menengah Atas’ Ibu membeli radio baru. Ukurannya lebih kecil dan hanya memuat SD card, bukan kaset lagi. Antenanya masih ada, jadi masih bisa menangkap siaran langsung dari FM dan AM.

Setiap subuh ketika kami masih terlelap, Ibu sudah sibuk di dapur dengan radionya yang memutar murottal dengan terjemah dari siaran AM. Ketika itu, aku sedang menyukai grup boyband asal Korea. Awal mula KPop mengganas.

Karena terlalu sering mendengar musik, rasanya hatiku dipenuhi dunia, wal iyadzubillah. Jadi, peran Ibu dalam memutar murottal dengan terjemahannya itu, membantuku untuk memperoleh hidayahNya. Syukur alhamdulillah!

Memang tidak serta merta berubah. Entah butuh berapa waktu sampai Allah membersihkan hatiku dari musik. Bahkan pergulatan antara nafsu dan fitrah kebaikan, terus terjadi puluhan atau mungkin ratusan kali.

Sekarang, setelah aku punya anak, aku melanjutkan tradisi Ibuku tersebut. Ibu pernah cerita bahwa beliau selalu memutar apapun dari radionya sejak masih kuliah, saat terpisah dari orangtua karena kuliah di luar kota. Kupikir, inilah hikmah kebiasaan baik orangtua bahkan sebelum menikah.

Itu membuatku terus mengingat bagaimana radio dan Ibu amat terhubung dalam hidupku. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, Engkau tempatkan aku dalam keluarga yang Engkau ridhai ini, aamiin yaa rabbal alamiinn.