Prompt: Pikirkan satu ide bisnis yang gila.
Aku memaknai bisnis sebagai usaha yang bernilaikan uang dalam menyelesaikan masalah manusia. Dan saat ini, aku sangat membutuhkan seseorang yang dapat menguraikan masalah pekerjaan rumah tangga.
Bukan pekerjaan rumahnya yang kuharap dibereskan, tapi sistemnya dimana aku sering kali tertimpa 1000 kewajiban dalam 1 malam. Padahal, di istana ini ada 6 mahkluk hidup yang bersemayam. Aku termasuk, seorang pengajar, dokter coas, mahasiswa kedokteran, dan remaja sekolah menengah atas. Oh, sepertinya aku perlu memasukkan anakku sendiri yang masih bermain di taman kanak-kanak.
Dari kelima entitas tersebut (aku mengecualikan orangtuaku karena mereka sudah cukup untuk melayani kami semasa kecil), tidak ada satu pun yang punya antena di kepalanya. Tidak ada. Bersih plontos kepala mereka dari berbagai macam bentuk antena. Secuil pun, tidak!
Sungguh heran. Kupertanyakan itu pada pohon yang bergoyang. Tidak, itu tidak boleh, tentu saja aku bercanda.
Pokoknya ketidaksadaran mereka kuyakini disebabkan oleh antenanya yang belum tumbuh. Mereka masih terlalu picik eh kicik sehingga tumpuan tugas rumah tangga ditolakkan ke pundakku begitu saja.
Padahal, aku punya bayi. Bayi 1 tahun. Apakah kamu tahu seperti apa bayi 1 tahun itu? Langkah kakimu tak pernah ditinggalkan setitik pun olehnya untuk diikuti. Si sayangmu itu, mengikutimu bahkan ketika hajat hidup utama hendak keluar. Bagaimanakah kiranya aku hendak menuntaskan urusan rumah tangga tanpa kehilangan akal dan jiwa?
Ya Allah aku berserah diri padaMu. Dan aku berharap seseorang yang dilahirkan untuk menjadi pahlawan ketimpangan rumah tangga hadir disini menawariku jasanya.
Aku sungguh lelah tiap kali masanya masuk sumur, aku harus berblup-blup dengan masalah yang sama. Air sumurku selalu saja berbau masalah rumah tangga. Sampai kapan?
Kalau saja aku punya kekuatan massa, harta dan kecerdasan, sudah kuserahkan semuanya pada bisnis penguraian benang kusut dalam persoalan tugas rumah tangga. Panjangnya, haha.
Tapi baiklah, kita kesampingkan dulu amarah yang menggejolak halus ini. Kebutuhan amunisi mungkin tak akan pernah terpenuhi, tapi konsepnya kuyakin sudah ada sejak zaman sebelum Puffin punah. Berikut ini poin-poin yang menurutku—bukan hasil riset—, penting dibahas saat makan bersama keluarga,
Tetapkan fungsi masing-masing individu. Apa peran ayah? Apa peran ibu? Peran kakak sulung? Kakak nomor 2? 3 dan seterusnya?
- Kewajiban apa yang dimiliki setiap individu sebagai makhluk luar rumah?
- Buat daftar pekerjaan rumah tangga dan biarkan setiap orang memilih beberapa yang sanggup dikerjakannya.
- Adakan reward dan tentu saja punishment. Siapa yang mengawasi? Kepala rumah tangga-lah semestinya. Jika ada yang tidak mau, keluar dari rumah. Oke ini berlebihan tapi memuaskan. Kalau tidak mau, lepas fasilitasnya. Apa ini bisa? Masih berat? Baiklah, kita turunkan. Kurangi uang jajannya. Kurasa ini sudah sangat rendah hukumannya. Jangan tanya aku apa sanksinya. Setiap rumah tentu punya hukuman yang paling menakutkan bagi masing-masing anggota keluarga. Tentukan saja bersama-sama.
- Setiap akhir pekan evaluasi. Secara bertahap ubah frekuensinya menjadi tiap bulan, 2 bulan, 3 bulan, per semester dan akhirnya per tahun!
Yap! Akhirnya rumah sudah kembali menjadi milik semua orang, bukan hanya aku atau ibu yang kayang koprol menyelesaikan semua urusan rumah tangga. Bayangkan betapa bergunanya bisnis ini. Tidak hanya membuat ringan beban “orang kamu di rumah terus, ya kamu lah yang kerja”, tapi juga bisa merambat pada struktur sosial dunia kerja.
Tentunya di lapangan kerja professional, ‘bisnis’ ini sudah tidak asing kan?

