I Need My Social Life Back


Hari ini secara mengejutkan, tanpa pernah kuperkirakan sebelumnya, aku bisa keluar rumah tanpa membawa seorang pun anak. Ya, aku keluar bersama teman tanpa anak. Meski tujuannya bukan untuk bersenang-senang, aku sudah merasakan kembali diriku sendiri.

Oke, itu kalimat yang agak berlebihan. Tidak hanya keluar rumah saja aku bisa menjadi aku, membaca buku, belajar, dan nonton film kesukaan juga bisa membangkitkan perasaan aku masih menjadi diri sendiri. Termasuk kegiatan menulis sekarang.

Hanya saja, situasi sendirian dan bertemu kawan amat berbeda dampaknya. Aku walaupun sudah sempat menikmati waktu sendiri, tetap setelahnya ‘baterai kepuasan’ belum penuh. Aku tetap merasa ‘okay, this is enough’, hanya berkurang kadarnya saja.

Jika sebelum me time aku seperti singa kelaparan, setelah mendapatkan keluasan waktu sendiri, aku jadi singa yang jinak. Masih berbahaya tapi sudah tidak berkeinginan memangsa lagi.

Nah, sekarang setelah bertemu teman, suasana hatiku amat berbeda. Sungguh! Aku kembali ke rumah dalam keadaan menyambut anak-anak penuh kasih sayang dan rindu. Iyaloh rindu!

Aku juga tak menyangka hanya jeda dari anak-anak selama 2 jam, bisa membangkitkan rasa rindu. Apalagi yang kutemui tadi adalah teman yang baru kehilangan bayinya. Bagaimana aku tidak bersyukur Allah masih mempercayaiku untuk mengasuh dan mendidik hamba-hamba kecilNya ini?

Aku cukup yakin bahwa aku, kadang-kadang butuh waktu tanpa anak-anak. Tidak harus tiap hari. Sesekali dalam sepekan saja diberi waktu untuk keluar bersama teman untuk tujuan yang jelas, bisa mengubah sudut pandangku.

Sudut pandang penuh syukur.

Aku dituduh kurang bersyukur bila mengharapkan waktu keluar bersama teman. Padahal aku sendiri tidak merasa sedang kurang bersyukur. Itu hal yang berbeda.

Aku hanya merasa lelah.

Terus menerus menjadi tiang penyangga rumah, terus bersikap siaga memastikan tidak ada bahaya terjadi pada anak sekaligus menjaga kebersihan dan kerapihan rumah, membuat otakku nyaris konslet. Kadang-kadang aku berteriak demi mengeluarkan percikan listrik yang mulai bereaksi.

Dan ya, kusampaikan yang sebenarnya pula pada mereka, bahwa aku, ibunya, sedang ingin berteriak agar beban di hati berkurang. Jadi kupinta pada mereka agar membiarkanku sendiri dulu sampai kondisi hatiku membaik.

Meski sudah begitu pun, tetap saja aku lelah. Barulah setelah keluar bersama teman, aku tidak lagi melihat peranku sebagai beban, tapi anugerah yang tidak semua Allah berikan pada manusia. Benar, aku jadi lebih mudah bersyukur setelah berdiri di luar garis, tidak lagi menjadi pemain.

Kuharap, aku bisa terus merasakan cinta dan kasih sayang pada anak-anak dan suami. Kuharap, aku tidak memandang peranku sebagai beban lagi. Dan kuharap Allah memberiku kesempatan untuk belajar atau bekerja di luar tanpa membawa anak, sehingga kebersamaanku dengan mereka yang mungkin berkurang, lebih berkualitas, daripada 24 jam bersama namun bersikap hidup segan mati pun enggan.