Oke, aku tak bermaksud untuk tidak menulis selama 2 hari. Hanya saja, waktu yang kukhususkan untuk menulis selalu direbut oleh otak yang ingin menganalisis tingkah laku seseorang. Maka setelah pikiranku dapat diajak kompromi, yaitu saat ini, dengan segera kubuka aplikasi ini untuk menulis.
Sebenarnya, aku sedang terjebak dalam situasi yang dalam ilmu psikolog disebut rumination. Sebuah kondisi otak yang tidak berhenti mengulang pernyataan dan pertanyaan yang sama menyakitkannya.
Niat otak adalah menemukan jawaban akhir yang akan menutup siklus ini. Nyatanya yang terjadi adalah aku semakin tenggelam dalam emosi yang kuciptakan sendiri.
Setiap ada waktu kosong, otakku akan menganalisis gerak, perilaku, ungkapan dan bahasa non verbal yang ditunjukkan seseorang. Setiap kali aku menemukan celah, otakku akan memutar ingatan tersebut terus menerus sampai rasanya aku akan gila.
Bayangkan, selama sebulan lamanya aku berada dalam kondisi waspada. Tak pernah ada waktu untuk otakku duduk tenang, berhenti menjegal setiap bahasa tubuh seseorang. Tiap kali aku mengikuti pola ruminasi ini, bukannya ia berhenti, justru semakin kuat saja emosi yang kurasakan dalam hati.
Dalam rentang waktu tersebut, di tengah kegilaan pikiran yang terus mendorongku untuk berhenti dalam menjalani hidup ini, aku telah mencoba untuk menyembuhkan diri. Aku menemui teman lama karena kupikir mungkin lingkup kehidupanku yang teramat sempit sehingga setiap perubahan bahasa yang ia tunjukkan, kuanalisis dengan sungguh-sungguh.
Dan ya, berhasil. Aku dapat berpikir normal setidaknya selama 1, 2 hari. Hanya 2 hari. Dan aku kembali mengobservasi perilakunya.
Langkah selanjutnya, aku melakukan konseling online dengan psikolog. Baru membayar biaya konselingnya saja sudah membuat otakku tenang. Maksudku, hei, bukankah kamu selama ini terus melompat kesana kemari meminta penjelasan? Sekarang aku hendak membuatmu tenang, jadi kenapa kamu wahai otakku justru bersikap seakan tidak ada apapun yang terjadi ketika aku telah membayar biaya konselingnya?!
Argh. Aku tak mengerti.
Jadi, selama 90 menit aku konseling via chat, permasalahan yang tersampaikan benar-benar hanya berada di permukaan saja. Aku tak merasakan gejolak emosi yang selama ini kualami. Datar. Seakan aku tak punya masalah sama sekali.
Meski begitu, saran-saran yang ditawarkan psikolog, membantuku untuk melihat karakter orang tersebut. Aku dapat menempatkan diri sesuai persepsinya, tidak menilai lagi berdasarkan ekspektasiku padanya. Kukira selamanya aku tak akan lagi terjebak dalam loop ini, rupanya, ya, hanya bertahan kurang dari 1 pekan.
Setelah itu, otakku kembali bermain harmonika lagi tanpa henti. Sesekali bahkan dia muncul saat aku sedang menulis ini. Oh ya Allah, tolong.

