How I see my Ramadhan this Year



Ramadhan kemarin, aku berhasil puasa dengan tuntas meski harus terima fakta bahwa durasi haidku yang mencapai 15 hari membuatku tetap saja menambah banyak daftar hutang puasa. Selama berpuasa, aku membaca tubuhku dapat beradaptasi selama aku diberi kesempatan untuk tidur siang.

Ya, tentu saja haha.

Tanpa tidur siang dan tidak tidur pagi, kepalaku menabuh genderang dengan amat keras sebab menahan lapar dan ngantuk. Bayangkan saja, belum jam 7 pagi pun aku sudah keroncongan. Setelahnya aku tetap harus mengerjakan pekerjaan rumah meski lapar mendera.

Aku tidak bisa menghindar dari rasa lapar karena memang aku masih menyusui. Untunglah Babah sudah 1 tahun lebih jadi aktivitas menyusu hanya dicarinya ketika mengantuk atau butuh rasa aman.

Oh ya, karena haidku durasinya lama plus intensitas darahnya lumayan banyak, saat sahur kemarin aku hampir pingsan. Selain kurang darah, hari sebelumnya itu aku kurang tidur dan aktivitas luar biasa padat. Aku benar-benar lelah, tapi memaksakan diri untuk menyiapkan sahur dan shalat tahajjud.

Menjelang akhir rakaat, tiba-tiba dadaku terasa dingin. Pandanganku mulai kabur, kepalaku ringan seperti mau jatuh. Wah, aku panik sekali. Segera kuselesaikan shalatku lalu bergegas mengambil air minum.

Bodohnya, aku malah berdiri, berjalan, yang justru membuat kesadaranku semakin menjauh. Aku berteriak meminta suami mengambilkan obat promag. Saat itu kupikir rasa ingin pingsan ini karena maagku kambuh.

Sambil menggumamkan dzikir, aku memeluk lututku erat. Kubayangkan bahwa inilah saat terakhirku di dunia, wal iyadzubillah. Jadi ketika aku berhasil mengambil kontrol atas tubuhku, aku amat bersyukur.

Sungguh lega karena masa ‘kritis’ itu berlalu. Walaupun begitu, efek dari pengalaman hampir pingsan membuatku kehilangan semangat hidup sampai berminggu-minggu lamanya. Positifnya, aku jadi tidak begitu mempermasalahkan konflik rumah tangga. Toh di akhir hayat kita hanya masuk sendirian dalam kubur, pasangan dan anak tak dapat diajak serta.

Negatifnya, aku jadi takut dengan suami. Kurang yakin juga sih kenapa aku jadi nggak berani bersikap terbuka padanya. Terutama setelah lebaran, aku sampai tak ingin membuka hijab depan suami. Bahkan sekedar menatap matanya tidak bisa.

Awalnya aku tidak ambil peduli. Aku sudah merasa aman tinggal dengan orangtua saat itu. Tapi ternyata, suamiku menyadari perubahan sikapku.

Tanpa kusadari, aku mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan masa kecilku. Nampaknya, sikap penolakanku terkait dengan trauma masa kecil yang diperparah oleh pengalaman hampir pingsan. Pengalaman itu menyentil eksistensialku.

Sehingga, ketika masalah rumah tangga yang tidak benar-benar selesai dan menyangkut rasa aman, tubuhku otomatis mengambil jarak tanpa aku menyadarinya sama sekali. Dengan pengungkapan masa lalu yang traumatis pada suami, perlahan tubuhku menerima dirinya lagi.

Ramadhan kali ini memberiku sebuah pelajaran berharga. Apa yang kurasakan tidaklah menjadi hal remeh bila orang lain menganggapnya bukan masalah. Kita semua memiliki pengalaman berbeda yang membentuk bagaimana cara kita memandang konflik.

Tidak semestinya aku mengecilkan diriku sendiri hanya karena orang lain tidak mempermasalahkannya. Aku punya prinsip sendiri dan siapapun tak berhak menilai apakah prinsipku terlampau tinggi.

Lebih lamaTerbaru