Memilih Sekolah Dasar


Sebenarnya, tahun ajaran baru masih 6 bulan lagi, tapi sekolah-sekolah swasta sudah gencar menebar potongan harga dan janji manisnya di brosur. Aku yang sudah lama menanti masa-masa ini, haha, justru babak belur akibat musyawarah. Eh kok malah makin bingung? Iya, karena aku tidak hanya meminta pendapat suami dan anak, tapi juga kedua orangtua yang kuhormati dan kusayangi.

Bagi ayah ibuku, yang utama adalah jarak dan prinsip atau fasilitas. Kedudukan prinsip dan fasilitas di mata mereka nyaris sama, karena setelah melihat kondisi fisik salah satu sekolah negeri, ayahku memalingkan pilihannya. Nah, bagi suamiku, dia mengutamakan prinsip yang sejalan dan biaya. Soal jarak awalnya bagi dia adalah masalah, tapi entah kenapa sekarang dia condong pada sebuah sekolah swasta Islam yang jarak tempuhnya sampai 20 menit kalau tidak macet. Selanjutnya pendapat Ahnaf yang akan menjalaninya sendiri. Dia ingin sekolah yang punya lapangan agar bisa bermain kejar-kejaran sepuasnya. Saat aku menulis ini yang terbayang justru SD Negeri. Soal lapang sih memang sekolah Negeri pemenangnya. Kalau pilihannya sekolah swasta dengan rentang biaya untuk kaum menengah ke bawah, tentu harapan lapangan luas itu tipis sekali. Apalagi kalau tinggal di kota padat penduduk. Dan terakhir, prioritas pilihanku. Aku mengutamakan ekosistem sekolah. Ekosistem sekolah yang sudah terbentuk memungkinkan kedisiplinan anak muncul daripada sekolah yang masih eksperimen aturan. Ini berdasar pengalamanku dulu ngajar di sekolah baru. Tiap kali ada inovasi pendidikan, pemilik sekolah akan menerapkannya. Bagus sebenarnya, tapi ekosistem sekolah jadi kacau. Ibarat menjemur di saat cuaca yang berganti-ganti terus. Bikin bingung harus jemur apa enggak. Efek ke anak didik juga tidak main-main. Mereka jadi kacau dan lebih sulit diatur. Karena itu aku menolak sekolah yang baru terbentuk 1-2 tahun.

Untuk mengurutkan prioritas, kita gunakan jangkar dari pertanyaan, apa sebenarnya tujuan anak masuk sekolah dasar? Tentu ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, tapi aku akan memilih definisi dari Montessori dan 2 negara dengan pendidikan terbaik, Jepang dan Selandia Baru.

Bagi Dr. Montessori, anak usia SD memerlukan kesempatan untuk dipercaya dan terlibat aktif dalam struktur masyarakat. Proses pembelajarannya yang utama adalah hands-on dan bermakna. Untuk negara Jepang, mereka menganut prinsip sekolah dasar sebagai tempat peletakan pondasi manusia beradab. Dan terakhir, negara Selandia Baru meyakini anak usia 6 sampai 12 tahun perlu belajar untuk dapat menjadi manusia yang tangguh. Ketiganya punya jawaban yang mengerucut pada tujuan pendidikan yang ditetapkan oleh Allah: adab dan tanggung jawab. Kurang satu sih yang paling penting, tauhid dan ibadah dasar.

Nah sekarang sudah bisa diurutkan prioritasnya,

1. Prinsip yang sejalan, berupa nilai-nilai Islam

2. Ekosistem sekolah sudah jelas terbentuk

3. Lapangan luas untuk mengakomodir kebutuhan dasar anak

4. Biaya sesuai kesanggupan

5. Jarak