Akhir-akhir ini, waktuku banyak terpakai untuk menyurvei perumahan di sekitar kantor suami. Sebenarnya suamiku sendiri tidak merasa urgent untuk punya rumah. Toh kami diberi fasilitas pesantren untuk tinggal di rumah 'dinas'nya. Dia berniat untuk menabung saja sampai bisa membeli rumah cash.
Sayangnya, seringkali uang tabungan tersebut lari ke berbagai kebutuhan mendadak. Mobil tiba-tiba rusak, motor mogok, ada pertemuan keluarga. Seringnya ya tabungan kami habis di mobil pinjaman nenek. Maklumlah mobil lama. Umurnya saja jauh melampaui umur kami.
Karena itulah aku memintanya untuk realistis. Kalau tidak ingin membangun rumah sendiri dari 0, pilihannya tentu membeli rumah lewat pengembang, sebab harga rumah cenderung naik pasca covid mereda.
Sebagai perbandingan, harga rumah subsidi di Makassar tahun 2020 senilai 156,5 juta. 4 tahun kemudian, harga naik menjadi 173 juta. Dan tahun ini harganya bila di total dengan biaya-biaya, hampir menyentuh 200 juta untuk perumahan yang berada di pinggir kota.
Berbeda dengan rumah komersial yang cenderung stabil. Mereka lebih elastis karena bergantung penuh pada segmentasi pasar masyarakat kelas menengah ke atas. Jika daya beli meningkat, pengembang akan menaikkan harga. Sebaliknya, jika daya beli masyarakat kurang, kenaikan harga akan ditahan biar tetap laku.
Ya, segmentasi pasarnya saja sudah berbeda. Konsumen kelas menengah ke atas melihat rumah sebagai investasi jangka panjang sehingga cenderung selektif dalam memilih. Sedangkan kelas menengah ke bawah tidak punya banyak pilihan, sehingga harga rumah subsidi lebih fluktuatif.
Dan disitulah kami, kelas menengah ke bawah yang berharap mendapatkan kualitas -minimal B lah. Ada beberapa poin penting bagi kami, tetapi yang paling utama adalah, pengembang rumah subsidi telah bekerja sama dengan bank syariah sehingga kami terselamatkan dari kubangan riba.
Kalau poin ini terceklis, kami akan melanjutkan ke tahap selanjutnya, menanyakan riwayat tanah dan perolehan air.
1. Apakah tanah timbun atau tanah asli?
Resiko tinggal di rumah dengan tanah timbun, entah bekas rawa, sawah atau perkebunan bambu, bisa memperbesar peluang kerusakan konstruksi bangunan. Retak, posisi pintu atau jendela bergeser sehingga tidak bisa ditutup rapat. Paling ngeri, saat gempa, tanah bisa mengalami likuifaksi.
2. Sumber air dari mana?
Umumnya, rumah subsidi belum terhubung dengan PDAM. Mungkin untuk menekan biaya atau PDAM sendiri tidak bisa menambah pelanggan lagi. Terlebih daerah perbatasan Makassar-Maros-Gowa dikeroyok perumahan-perumahan baru. Sebagai solusi, setiap rumah sudah disediakan sumur bor oleh pengembang.
Nah, ini lagi-lagi terkait riwayat tanah. Air dari tanah asli jauh lebih bersih dan melimpah daripada bekas timbun. Tanah timbun bisa saja gabungan dari berbagai material seperti batu, tanah liat, puing bangunan, sampah organik. Jadi, kualitas air rumah di tanah timbun amat dipertanyakan.
Untuk sekarang sampai disini dulu ya biar tidak kepanjangan. Selanjutnya bakal lebih spesifik lagi insyaallah. Memilih rumah yang akan ditempat memang perlu banyak pertimbangan :).
