Prompt: Seperti apakah pemimpin yang baik itu?
Seperti Rasulullah :))
Apa ada yang lebih ideal dari beliau?
Beliau shallallahu alaihi wasallam tuh sempurna luar dalam tanpa cela. Apalagi soal kepemimpinannya. Sini aku urai sedikit tentang beliau yang sangat husbandable, leaderable, etc, based on my needs.
1. Pemimpin bagi Diri Sendiri
Bersikap adil. Jika sudah waktunya istirahat, beliau istirahat. Kebersihan tubuh selalu dijaga. Beliau juga hanya makan di saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Semuanya teratur, tidak ada yang berlebihan.
Beradab pada diri sendiri. Ya, beliau shallallahu alaihi wasallam tidak membiarkan dirinya terhina di pandangan Allah. Rasulullah makshum dari perbuatan dosa, bahkan sebelum menjadi Nabi sekalipun. Kita memang tak akan pernah bebas dari dosa, namun, berusaha menghindari maksiat dengan menjauhi sebab-sebabnya, selalu meminta perlindungan pada Allah dan memperbaiki shalat, akan membantu kita untuk tidak menjadi terhina di pandanganNya. Termasuk segera memohon ampun pada Allah saat tak sengaja bersikap khilaf.
Jujur. Sudah jelas beliau tak pernah bohong bahkan pada dirinya sendiri. Saat Rasulullah sakit karena terkena sihir, beliau mengakui, menerima dan tidak denial. Orang yang denial pada keadaannya, seringkali menolak untuk diobati, dinasihati sehingga dampaknya memperparah penyakitnya sendiri.
2. Pemimpin bagi Keluarga
Adil membagi waktu dan perhatian. Sebagai manusia biasa, kita memang tak akan bisa sempurna, apalagi di tengah gempuran entertainment dalam genggaman. Kalau tak tahu membagi prioritas, keluarga sudah pasti korban utamanya. Kenapa? Karena keluarga tidak menuntut apa-apa. Beda dengan pekerjaan dimana ada konsekuensi pasti untuk semua tindakan.
Bersikap jujur dalam segala hal. Perkataannya sama dengan perbuatan. Beliau tidak memberi nasehat kecuali pasti dikerjakan. Saat berjanji pun pasti ditepati. Rasulullah tak meremehkan janji bahkan kepada anak kecil sekalipun.
Bertanggung Jawab. Dengan jumlah istri lebih dari 1 -setelah Khadijah Radhiyallahu Anha tiada, tentu saja-, beliau mampu membuktikan pada dunia bahwa dirinya adalah suami terbaik sepanjang masa. Seluruh aspek kehidupan sang istri dipenuhi beliau; pendidikan, nafkah lahir dan batin. Begitu juga dengan anak-anaknya. Tak ada satu sisi yang beliau tinggalkan atau kurangi.
Sekali lagi, tak mungkin kita bisa menyamai akhlak beliau sebab manusia sempurna hanya tersematkan kepadanya, shalallahu alaihi wasallam. Dengan kesempurnaan beliau tersebut, dimana Surga sudah terkunci di genggaman, beliau masih saja shalat semalam suntuk. Shalat hingga kakinya bengkak, yang bahkan di-approved oleh istrinya sendiri, Aisyah Radhiallahu Anha.
Lalu, mengapa aku, yang belum tahu tempat istirahatnya dimana, sungguh sulit melaksanakan shalat malam?
Dan mengapa aku justru berbicara tentang shalat di tulisan bertema pemimpin ini?
Lagi-lagi, melalui shalat lah sebenarnya, yang dapat memperbaiki diri kita. Sebesar apapun niat untuk menjadi lebih baik, akan sulit terlaksana bila shalat kita belum benar, belum terasa nikmat, hingga mampu mengalihkan rasa sakit dan lelah.
Terimakasih untuk pertanyaan ini, jetpack. Menyegarkan kembali rasa rindu padanya, shallallahu alaihi wasallam yang selama ini tertimbun oleh hiburan tak bernilai. Hiks.

