Tulisan ini semata untuk mencatat materi penting dari buku yang aku pinjam di ipusnas. Berhubung aku ga suka nyimpen hidden gems sendiri, jadi aku share disini.
Pengalaman mbak Cleviena, sebelum memulai homeschooling, beliau membuat daftar yang akan menjadi tujuan dan pemicu semangat kala merasa jenuh agar tetap dapat mengikuti irama bermain anak.
Visi misi pendidikan mereka adalah:
1. Anak merasa sungkan malu, dan takut hanya kepada Allah. Perasaan ini dapat muncul hanya ketika rasa cinta yang amat besar kepada Allah tumbuh subur dalam hati anak. Caranya dengan mengenalkan sifat dan kekuasaan Allah.
2. Anak nyaman dan percaya kepada orangtuanya sendiri. Yang diperlukan anak bukanlah ancaman melainkan informasi bagaimana mereka dapat mengatasi masalah yang mereka rasakan dengan memanfaatkan akal dan pikiran.
3. Anak memahami kenapa Al Qur’an harus menjadi panduan hidup mereka.
4. Anak pantang menyerah dan kreatif
5. Anak memahami diri sendiri
6. Anak tahu apa yang dia mau
7. Anak bahagia dan pandai bersyukur.
Dengan visi misi yang jelas, orangtua dapat selalu menjaga agar mereka dan anak-anaknya senantiasa on track. Sebab, menjadi orangtua berarti menjadi manusia terpilih untuk menjaga amanahNya agar dapat menanamkan nilai agama yang memperkukuh kepribadian anaknya. Karena itu, orangtua harus berhati-hati dalam berperilaku sebab anak cenderung meniru daripada mengikuti nasehat.
Selain belajar dari apa yang mereka lihat, anak-anak juga belajar melalui pengulangan. Itulah alasannya mengapa kita sebagai orangtua perlu berusaha memperlihatkan tindakan, kebiasaan dan tutur kata yang baik secara berulang-ulang di depan anak.
Salah satu contohnya adalah tidak mengatakan jangan dan awas pada saat anak melakukan gerakan yang sepertinya di mata kita belum mereka kuasai. Cukup mengatakan, “fokus dan perhatikan sekelilingmu.’
Bila mereka gagal, katakan saja, “pasti sakit ya atau tidak nyaman, sepertinya kamu butuh mencoba lagi nanti”. Dengan begitu, kita berharap anak-anak tidak mudah putus asa. Mereka mau berjuang meski jatuh berkali-kali.
Kita tidak bisa menyamakan kemampuan tiap anak. Mereka mengemban misi masing-masing. Sesuai dengan kapasitas orangtuanya. Allah menitipkan hamba kecilNya kepada orangtua yang memang kompatibel dan selaras untuk dapat mengembangkan potensinya agar menjadi manusia seperti kehendakNya.
Meski begitu, kita tidak bisa memaksakan keinginan kita sendiri. Seharusnya kita justru membantu anak memahami posisinya di dunia. Olehnya itu, mengajak anak untuk diskusi mengenai alasan utama mengapa Allah menciptakan manusia dengan akal dan pikiran lebih didahulukan sebelum mengenalkan mereka makhluk lain.
Metode Homeschooling yang digunakan mba Cleviena menggunakan dasar ajaran dan nilai agama, dasar biologis seperti seberapa besar pengaruh manusia terhadap diri dan lingkungan sekitar, psikologis dengan mengembangkan ruhani anak agar menjadi anak baik dan mampu bersyukur dalam berbagai macam kondisi, dan sosiologis yang akan membantu mereka menempatkan diri dalam masyarakat.
Langkah-langkah beliau dalam menetapkan kurikulum untuk anaknya adalah:
1. Observasi anak dengan fokus dan perhatian terhadap semua aktivitas anak(tindakan, ekspresi, perilaku).
2. Sediakan waktu berkualitas sebab perkembangan anak cukup cepat. Dalam sehari bisa saja mereka sudah mendapatkan pengalaman atau informasi baru yang bisa mengubah perilaku mereka.
3. Buat kesepakatan bersama dan jadwal untuk fokus hanya kepada anak agar anak merasa dihargai, aman dan cenderung terbuka.
4. Observasi lingkungan anak sebab perilaku san sikap anak sebagian besar dibentuk oleh lingkungan tempat dia dibesarkan dan orang yang lebih sering berada di sekitarnya.
5. Biarkan anak bercerita dan bertanya. Kenali anak dari nada bicara, kosakata, emosi, ekspresi dan gestur tubuh. Bukan malah memaksa anak mengenali orangtuanya dengan memaksakan pemikiran kita yang mungkin saja berbeda dengan kepribadian dasar anak.
6. Biarkan anak berekspresi. Lakukan kegiatan jurnal bersama-sama.
7. Cari tahu perkembangan anak sebayanya.
8. Berempati adalah hal penting untuk memahami anak lebih baik.
9. Jangan pernah menganggap orangtualah yang paling memahami anak. Hal ini dapat menutup diri kita dari informasi penting dan akurat untuk memahami anak.
Panjang sekali ya, haha. Bukunya daging banget sih. Sebaiknya kalian baca sendiri deh. Aku merasa perlu punya buku fisiknya ini. Ada banyak contoh aktivitas yang melatih keberanian anak untuk crafting.
Tentu semuanya bermula dari buku bacaan yang didiskusikan bersama dengan orangtua. Agar mampu menjawab pertanyaan hebat anak, kita harus menguasai betul materi yang akan dibahas. Literally, menjadi guru untuk anak, bukan orangtua yang sedang mendampingi anak mengerjakan pr.
Homeschooling memang butuh kekuatan tekad agar tak berhenti di tengah jalan. Semoga aku termasuk salah satunya, hehe, aamiin.

