Saat Masalah Terselesaikan dengan Shalat

 

#Week 2

Keyakinan dan kesabaran adalah dua hal yang menjadi lesson learned pekan ini. Meyakini bahwa pertolongan Allah itu dekat, dekat sekali. Terutama bila masalah itu makin pelik rasanya. Kesabaran yang kupelajari adalah kemampuan untuk menunggu pertolonganNya. Tentu saja dengan cara yang telah Allah tunjukkan:

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ 

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. 

QS. Al Baqarah ayat 45 

Betul shalat itu memang sulit. Ketika tidak mampu melepaskan diri dari dunia walau cuma sebentar saja. Padahal, apa yang ingin segera kita dapatkan dan kita khawatirkan hilang, ada di tangan yang kita sedang berdiri di hadapanNya. Bagaimana bisa kita tergoda untuk segera mengakhirkan hubungan dengan yang memegang segala kebutuhan kita? 

Begitulah keadaanku kemarin. Sebelum mendengar tadabbur Quran Surah Al Fatihah dari ustadz Adi Hidayat. Tujuanku mendengarkan hanya untuk referensi menulis jurnal Quran yang kuikuti challenge-nya di @quranjournal_id. Tau-tau, apa yang beliau sampaikan membuka pikiran, dan hati yang tenang saat mendengarnya, ikut menerima nasehat beliau dengan mudah. 

Betapa BESAR pengaruh shalat itu jika dilakukan dengan khusyuk. Khusyuk itu sendiri tidak bisa diraih kecuali dengan memahami makna bacaan shalat. Perlu diyakini sebelumnya, bahwa shalat bukan sekedar ibadah wajib, yang dikerjakan untuk menggugurkan kewajiban saja. Tapi ia adalah kesempatan untuk kita makhlukNya yang lemah, meminta hajat kepada Pemilik Segalanya. 

Maka setelah aku melaksanakan shalat, beban itu juga telah kuserahkan sepenuhnya kepada Allah. Aku diarahkan Allah untuk memperjuangkan, alih-alih berdiam diri menunggu dirinya melakukan pergerakan. Menumpas kelemahan diri, memaksa tubuh untuk bergerak. 

Setelah itu pun keajaiban tidak datang begitu saja. Aku masih diminta untuk bersabar. Aku menunggu. Kali ini aku yakin, menunggu adalah tugasku dari Allah, bersabar mengharap pertolonganNya. Alhamdulillah, Maha Benar Allah dengan segala firmanNya. Allah menurunkan kelapangan hati pada kami, dan ketenangan pada diriku. 

Namun untuknya, masih ada tantangan dari Allah. Selama beberapa jam kemudian, aku memperhatikan ia berjuang untuk melaluinya dengan sabar. Terlihat sulit di awal, tapi setelah melaksanakan shalat wajib, ketenangan itu pun turun. RahmatNya meliputi kami, sehingga terangkatlah beban dan lepaslah lidah yang kelu. 

Pekan ini, aku belajar untuk lebih mengencangkan doa di waktu shalat dan memperjuangkan sepenuh jiwa apa yang menjadi kewajibanku. Bukan pada hak saja kita berusaha, totalitas dalam melakukan kewajiban, tanda petik "untuk meraih keridhaanNya", adalah cara memperoleh kembali hak yang kita perjuangkan.

Back to Top