Pagi Penentu Hari

 

#Week 1

Di tengah keriuhan pandemi bulan Juli 2021 ini, awal pekan daerah terdampak masih sekitar Jawa dan Bali saja. Tapi semakin berlalu hari, makin banyak muncul berita covid -19 di Makassar, wal iyadzubillah.

Aku sudah merasa skeptis akan status Sulsel yang oranye. Tak terlihat dengan nyata aksi Pemerintah membatasi pergerakan masyarakat dari Jawa dan Bali. Apalagi masyarakatnya sendiri yang notabene berwatak keras, sulit untuk disatukan dalam satu barisan. Pemalsuan surat juga bukan hal yang mustahil, sehingga tentu tidak menutup kemungkinan covid kembali berjaya setelah ditahan Allah sekian bulan sejak datangnya Ramadhan. 


Aku merasa down. Ga moooood sama sekali, bawaannya lemas tak bertenaga. Dan aku tahu jelas penyebabnya. Hari yang kumulai, pagi yang diberkahi, tidak ku-awali dengan membaca al Qur'an maupun dzikir. Astagfirullah wa atuubu ilaihi. 😭

Berita-berita negatif yang datang silih berganti menambah beban di pikiran. Semangat makin terjun bebas ke bawah. Tubuh pun merespon dengan sensasinya yang tidak nyaman. Laa hawla walaa quwwata illa billah. Betapa besar pengaruh pikiran itu bagi tubuh. Pantaslah Allah menyebutkan bahwa Ia sesuai dengan prasangka hambaNya. 

Allah... Aku meminta agar aku senantiasa ber-husnudzon kepadaMu ya Rabb... 

Di awal pekan selama 2 hari berturut-turut, aku semangat untuk beraktivitas. Sampai mengantar Ahnaf ke perpustakaan yang jaraknya luar biasa untuk ditempuh ibu hamil sepertiku, pun, tetap kutempuh. Bahagia rasanya bisa memfasilitasi anakku main dan bersosialisasi. 

Lanjut di hari Rabu dan Kamis, undangan seminar hasilku tiba. Aku sudah harus menyetorkan kepada dosen yang tersebut namanya, hari itu juga. Sebab, jangka penerimaan undangan oleh dosen dan waktu seminar hasil, hanya 1 pekan. Suami dengan sukarela segera tancap gas mengantarku kesana kemari. Jadi lah dua hari itu kami nge-bolang. Namun syukur alhamdulillah, Allah mudahkan urusan itu. Aku tidak perlu menemui dosen karena hampir semuanya sedang sibuk sehingga surat dan skripsi, kutitip ke orang rumah. 

Kecuali 1 dosen penguji. Menemukan rumahnya seperti orang safar di tengah gurun, dihadapkan fatamorgana. Aku sudah kepalang tanggung mengetok pintu rumah yang salah. Sampai akhirnya ku curiga. Kutelpon segera temanku yang sempat merespon pertanyaanku di grup kelas, dan benar. Itu bukan rumahnya. Yassalam

Tak terkira serunya hunting rumah dosenku itu. Aku sampai tertawa lepas, melihat wajah suamiku yang tertekuk karena lelah. 🤭 Hanya Ahnaf yang masih memancarkan semangat di wajahnya. 

Di hari Jum’at, we stay home do nothing. Bukan karena aku udah males memproduktifkan diri, tapi ada keputusan yang tidak kusetujui dari suami yang membuatku males ngapa-ngapain. Akibatnya lalai lah aku dari Al Qur'an, rusak hariku waktu itu. Huhuhuhu. 

Kemudian Sabtu dan Ahad, kami di rumah orangtua. Kemarin, karena aku menghafalkan Qur'an dulu di waktu subuh, tubuhku sangat mudah digerakkan untuk mengerjakan kebaikan. Entah membantu orangtua, berlatih untuk seminar hasil, atau menemani Ahnaf bermain. Dan sekarang, jelas terasa bedanya. Sulit. Sulitnya minta ampun, bahkan mendampingi Ahnaf sepenuh hati, sesaknyaaa. Ya Allah... Hamba mohon ampunanmu. 😭 
Back to Top