Pengalaman Persalinan Caesar (1)



Kemarin, saat kehamilanku sudah mencapai trimester 3, aku sibuk mencari tahu cara untuk memudahkan bayi lahir secara normal. Tak pernah sekalipun aku mempelajari proses persalinan caesar, selain memang tak ada yang perlu disiapkan selain kesehatan fisik dani5ll mental, juga kurangnya orang-orang di media sosial yang sharing pengalamannya melahirkan dengan metode ini.

Karena itu, ketika aku mendapat giliran untuk mengalami sendiri proses persalinan caesar tersebut, aku kagok, bingung, takut, sebab tak punya bayangan apapun mengenainya. Bahkan video melahirkan caesar pun tak pernah aku sambangi.

Sehari-hari yang kulakukan hanya melatih tubuhku untuk siap lahir normal. Workout, jalan jongkok, senam kegel, yoga dengan birthball, jalan cepat tiap sore. Lalu, memasuki usia 36 minggu, aku sudah aktif melakukan induksi alami.

Selain fisik, aku juga bersemangat melatih mentalku dengan belajar teknik pernapasan perut, memilih pemandangan apa yang hendak kuproyeksikan di pikiran agar tetap tenang saat kontraksi datang, pun km mempersiapkan suami untuk menjadi pawang saat pikiranku tak dapat dikendalikan lagi.

Qadarullah wa masyafa’ala.

Sehari sebelum jadwal check up, aku merasa ada yang berbeda dari janinku. Gerakannya berkurang, tidak seperti biasanya. Bahkan saat aku mengangkat bagian kepalanya di perut bawahku, dia bergeming.

Syukurnya, selang beberapa menit, bayiku merespons. 

Jujur panik. Dari situ aku mulai berpikir untuk meminta proses lahir caesar saat dokter memeriksa kandunganku besok. Aku benar-benar berharap untuk dapat melahirkan anak ini segera. Bila tidak, aku takut kejadian tahun lalu terulang. Alhamdulillah, Allah mengabulkannya tanpa aku meminta ke dokter. Feelingku benar, ada yang kurang beres dengan bayiku saat itu.

Jadi, tanpa puasa lagi, aku langsung ditindak dua jam setelah check up. Dan inilah yang terjadi padaku ketika melakukan persalinan caesar:


1. Menerima banyak suntikan

Suntikan pertama; pengambilan darah untuk mengecek golongan darah. Informasi tersebut nantinya akan diterima oleh salah satu anggota keluarga atau kerabat yang akan stand by di kantor PMI.

Suntikan kedua; tes alergi. Untungnya kulitku tak merespons apapun sehingga tak perlu ada suntikan lagi untuk tes alergi.

Selanjutnya pemasangan infus. Aku tak menyangka suster akan gagal memasukkan infusnya;)) 2 punggung tanganku bengkak dan memar selama 3 minggu, hiks.

Suntikan berikutnya kuterima di ruang operasi. Kalau tidak salah posisinya di tulang punggung bawah. Lumayan sakit, namun aku dilarang keras untuk berjengit. Aku harus terus mematung memeluk kaki. Padahal perutku besar sekali, namun dokter anastesi memarahiku bila aku melonggarkannya sedikit. Kasian, anakku terjepit. 😦

Terakhir, suntikan tidak lagi kuterima di kulit, melainkan di cairan infus. Suster memasukkan anti nyeri pada bekas operasi yang efeknya justru membuat nyeri sekujur tangan. ;))


2. Aurat terbuka

Oke, kita ga bisa memilih siapa yang akan menangani kita. Mau tidak mau, tubuh kita semuanya akan dilihat oleh mereka ;)) Aku percaya, tak ada yang peduli sebenarnya, haha. Jadi saat itu, aku memosisikan diri sebagai manekin yang hendak diuji coba untuk menghilangkan rasa malu.


3. Menggigil dan kliyengan

Sepertinya semua proses persalinan bisa menyebabkan kedua hal ini. Apalagi saat berbaring di meja operasi. Aku tak mampu berhenti menggigil. Penglihatanku juga mulai kabur saat dokter mengerjakan perutku. Berkali-kali aku menggeleng, berkedip sambil terus berzikir demi mempertahankan kesadaran. Aku benar-benar dalam kondisi pasrah. Terserah tubuhku mau diapakan selama bayiku hidup, sehat, selamat, aku bisa melaluinya, dengan izin Allah. 


Yap, sampai situ dulu untuk hari ini. Akan kulanjut besok insyaallah.