September at a Glance

Ehem. Tak terasa sudah sebulan lebih aku ga aktif nulis di blog. 🙃 September yang banyaaak kegiatan menyenangkan, tidak semua mampu ter-record. Iya, aku sudah termasuk dalam deretan blogger pemula yang berhenti di tengah jalan tanpa alasan jelas.


Yang stuck nulis bukan karena kehabisan ide, tapi males aja alias ngikutin mood :)))) Ampun deh, huhu. Kalau ada sipir blog, aku bakal senang banget diawasin, dijagain biar nulis tiap hari meskipun ga dipost. Karena berhenti sebulan itu sama saja kembali ke garis awal, mulai dari start line lagi, hiksss. 

Weekly spreads yang kurancang sebagai media pendorong biar aku rajin nulis, tetep aja kalah banting. Bilangnya yahhh nanti aja deh kalau perasaan udah terkontrol, fisik udah enakan, dan tercipta suasana menulis yang mendukung. Memang seperti apa suasana yang mendukung di kepalaku waktu itu? Plis banget. Ditengah hutan yang indah tanpa manusia dan hanya ditemani riuhnya air terjun. 

Mantap banget ga sih? Ya Rabbi, ketahuan banget itu kerjaan halus Syaitaaaaan. Pokoknya mah salahin aja terus syaitan. HAHAHA. Padahal ada banyak ide yang bersilewaran di otak. Ada banyak pengalaman yang ingin dibagi. Dan semuanya musnah akibat menunda-nunda. 😭

Yaudalah soal menunda-nunda ini, insyaaAllah akan kubuat postingannya sendiri. Sekarang pengen sharing pengalaman aja dulu. Merangkum semua yang terjadi di bulan September Ceriaaaah. The real happy September... *commented by me in October.

Ya Allah, aku harus menyelesaikan draft ini di saat roda kehidupanku sedang berada di bawah. Diantara bulan-bulan yang kulalui tahun ini, Septemberlah yang membawa banyak keceriaan, masyaAllah. 

Kunjungan Sahabat Suami

Diawali dari sahabat suami yang datang bersama keluarga kecilnya, istri dan satu anak perempuan usia 1 tahun. Mereka datang dari kampung suami juga dan bermaksud untuk kembali ke tanah perantauan melalui kota Makassar. Sambil menunggu jadwal kapal, kami mengajak mereka keliling kota. 

Alhamdulillah, rezeki yang Allah beri lebih dari cukup. Selama dua pekan kami "menghamburkan" uang, haha, astagfirullah. Hari pertama kedua, mereka tinggal sendiri di rumah kami, sebab suami sedang mengurus tanah nenek di Pare-pare. Sementara aku di rumah orangtua sibuk mempersiapkan ujian tutup. 

Aku udah lupa sih urutannya gimana. Seingatku, tempat yang kami kunjungi itu mall Nipah, Lego-lego di pantai Losari, pulau Samalona, Malino, dan Bendungan Bili-bili. Ya Allah, senang banget deh waktu itu. Dalam kondisi hamil besar pun ga jadi kesulitan untukku terus beraktivitas bersama mereka. Kayak ga capek gitu sih. Anakku senang mungkin ya, diajak melihat banyak pemandangan dan suasana baru, MasyaAllah. 

Suamiku dan temannya memang suami percontohan, haha. Mereka sigap mengurus persiapan jalan-jalan disaat istrinya ngga bisa handle karena hamil besar, sedangkan yang satu lagi punya anak menyusui. Ingat banget mereka heboh di dapur buat ikan bakar untuk makan siang, atau masak telur tomat untuk dibawa ke pulau Samalona. Di Malino, mereka juga yang sibuk atur barang bawaan dan jagain anak-anak. 

MasyaAllah, makasih ya Syekh. 2 pekan yang sangat membekas, membawa perasaan bahagia itu kembali saat mengingatnya, juga rasa sedih karena menginginkan masa-masa itu kembali. :) 
Back to Top