Belajar Tawakkal kepada Allah

 


#Week 4

Sebenarnya tiap waktu, kita diarahkan untuk selalu bertawakkal kepada Allah. Tapi pekan ini, aku sangat merasakan pengajaran dariNya tentang berserah diri hanya kepada Dia yang Maha Kuasa dan Pemilik Sekalian Alam. Omong-omong tentang tawakkal, aku jadi penasaran, apakah sudah benar memaknainya sebagai penyerahan segala urusan kepada Allah? 
Setelah menjelajahi beberapa artikel di Google, aku tersentuh dengan pemaknaan hakikat tawakkal dari Ibnu Rajab Al Hambali rahimahumullahu. Ini ku-kutip dari laman rumaysho.com
Tawakkal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘Azza wa Jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya, baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata
Tidak ada yang kuasa selain Dia, Dia Maha Penyayang, Maha Mengabulkan Doa, dan sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Maka berserah diri dan memohon pertolongan, adalah jalan keluar dari masalah hidup. Inilah yang mestinya kutanamkan ketika suami berencana ke daerah, perdana, meninggalkanku dan Ahnaf di rumah berdua. 

Ketika Tawakkal Belum Jadi Pilihan

Awal masalah dimulai pekan kemarin. Saat aku ketahuan curhat yang tak bermoral (apaan), suami ujug-ujug memutuskan untuk memulangkan kami hari Selasa. Pakaiannya segera dipindahkan dari koper ke lemari. Melihat itu, hati hamba bergetar, takut ditinggalkan. 😭

Aku tentu saja berusaha mencegah tindakannya yang terlihat 'impulsif' di mataku, dengan merendahkan suara dan melakukan kontak fisik dengannya. Aku tahu, sentuhan bagi dia adalah bahasa cinta yang pertama. Sambil menahan diri untuk tidak menangis, kuminta ia mengambil waktu sejenak, memikirkan dengan matang keputusannya. Tapi ia bersikukuh.

Hari terus berjalan yang kupikir waktu akan merubah keputusannya. Alih-alih mengasihaniku, haha, sampai hari Jum’at pekan ini, suami tetap memutuskan untuk kembali ke rumah orangtuanya. Selama itu pula, aku berpikir keras untuk 'menyelamatkan diri'. Entah dengan memberikan pelayanan terbaik di sumur, kasur, dan dapur, sounding tentang aku yang sedang hamil dan Ahnaf si balita yang super aktif, dan menawarkan berbagai opsi. 

Pokoknya selama hampir sepekan, aku terbebani dengan pikiran akan tinggal berdua tanpa siapapun menemani. Rungsing deh. Ga bisa fokus produktif. Bawaannya mau nangis membayangkan tinggal berdua di rumah besar. Apalagi kalau malam tiba. Urgh, ya Allah. 🤧

Mau minta keluarga tinggal disini pun tidak bisa. Mereka semua sedang menjalani isolasi mandiri. Teman dekat juga sudah kuhubungi, namun mereka semua sulit keluar rumah di masa pandemi. Kalau dipikir-pikir, mereka mana bisa ya, sudah berkeluarga, ada tanggung jawab besar di rumahnya masing-masing. Hmm. Aku jadi kepikiran untuk menjalin pertemanan dekat dengan yang masih single. 😂 

Yah begitulah, tidak ada solusi selain face the situation. Jumat maghrib nanti, suami berangkat. Disinilah titik kepasrahan itu muncul. 

Tangisan: Puncak Pelepasan Emosi

Yap, haha, ending-nya pasti nangis juga, wkwk. Udah berusaha tegar, cari solusi, berdoa minta suami ga jadi pergi, tetap aja Allah takdirkan dia kesana. Aku kemudian berpikir, mungkin, ini cara Allah melatihku untuk naik kelas. Mampu menghadapi beragam situasi dengan kepala dingin, termasuk tinggal berdua dengan batita. 

Seharian itu, aku ga bisa menatap mata suami. Pengen nangis! Duh. 😂 Tak bisa pula aku bersikap baik padanya. Aku jadi jutek dan mogok masak. Mogok pekerjaan rumah. Tapi dia... 😭 malah membalas keburukanku dengan kebaikan. Sempat-sempatnya pula ia menawarkan diri mengantarku ke rumah dosen ambil tanda tangan. Plis, urusan rumah aja aku ga bisa, apalagi hal 'remeh temeh' begini. 

Qadarullah, aku luluh. 🙂 Memang sudah jadi sunnatullah keburukan yang dibalas dengan kebaikan akan lebih mudah melembutkan hati.  

Ke rumah dosen lah kami. Suami jadi cerewet selama di mobil. Apa saja jualan yang lewat, ditawarkan. Apa yang menarik baginya, dibicarakan. Padahal biasanya diam-diam bae. Hmmm. 😏

Pulang menjelang maghrib, kembali terbayangkan situasi yang akan kuhadapi. Rumah akan sepi, Ahnaf akan bermain denganku seorang. Huhuhu. Sembari menyiapkan makan malam, aku mengolah pikiran dan menata hati agar tetap tenang. Ada Allah, selama aku memasrahkan diri kepadaNya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalimat itu terus kuulang untuk men-sugesti diri. 

Saat makan malam, separuh dari bakul nasi dihabiskan suami. Padahal aku sengaja masak untuk sampai pagi, tapi sisa segitu mana cukup. 😂 "Tumben makan banyak", sindirku. Jawabannya standar, "Iya nih laper". 🙃 Seriously. Di pikiranku, jawabannya bakal seperti ini, "Iya sayang, aku makan banyak karena bakal kangen dengan masakanmu". HAHAHALU. 

Lalu, beberapa menit kemudian, hpnya berdering, bersamaan dengan perasaanku yang makin tidak enak. Benar saja, mobil sewanya sudah tiba. Suami yang sedang bermain kejar-kejaran dengan Ahnaf, segera mengangkut tas ranselnya dan menyalimi kami berdua. 

Urghh. Ada sesak yang ingin lepas, tapi kutahan sampai mengantar dia depan pintu rumah. Ketika melihat Ahnaf belum berpakaian dan ikut melihat Ayahnya keluar, tangisanku pecah. Sedih sekali anakku yang tadinya asyik main dengan Ayahnya, sekarang harus rela tinggal berdua dengan Ibunya. 

Ini pertama kali! Pertama kali kami tinggal berdua. Kalau ada orang lain, aku pasti biasa-biasa saja. Wong, ada yang temani kok. Ahnaf juga ga bakal kesepian. 😔 Iya, Ahnaf yang kupikirkan. Kasihan dia, tidak punya teman main. Aku bisa memang, tapi ga sanggup seasyik Ayah atau Om kecilnya yang kuat diajak kejar-kejaran dan main petak umpet. 😭

Buah dari Tawakkal

Lepas tangisan itu, hatiku lebih lapang. Tak kusangka juga perasaanku yang tadinya berantakan, hanya dengan menangis sebagai bentuk kepasrahan diri kepadaNya, aku kembali tenang dan mampu membereskan rumah yang berantakan. Bahkan aku mulai merancang kegiatan menyenangkan apa saja yang bisa kulakukan dengan Ahnaf selama 1 pekan. 

Alhamdulillah, rupanya tidak seburuk itu tinggal sendiri, haha. Langkah awalnya saja yang berat, tapi saat tiba di zona baru itu, semua pikiran negatif menjadi sirna. Apalagi disertai doa dan tawakkal kepada yang Maha Menjaga. 

Hpku jadi ramai ditelpon keluarga dan teman yang tahu aku tinggal sendiri. Alhamdulillah. 😭 Aku tidak sendirian. Kemudahan yang Allah anugerahkan pada generasi Millenial keatas, sesungguhnya membuat kita tidak pantas larut dalam kesedihan karena penderitaan. Apa lagi yang sulit jika semua bisa diakses dengan mudah? Tinggal 2 hal saja yang wajib kita penuhi agar kemudahan hidup di dunia bisa sampai ke akhirat.

Takwamerasakan pengawasan Allah sehingga segala perilaku ditujukan untuk meraih ridhaNya, dan tidak pula berani melakukan yang dimurkaiNya. Dan,
Tawakkalmemasrahkan segala urusan dan keadaan hanya kepada Allah, yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kepasrahan penuh akan membawa pelakunya pada ketenangan. 
Back to Top