Bingung juga sih topik pekan ini apa. Soalnya ada banyak hal yang terjadi. Yang syukurnya, alhamdulillah, tinggal berdua dengan batita ga sesulit yang kukira.
Dari pengalaman ini, aku sedikit banyak mengetahui perasaan suami saat dia tinggal sendirian di rumah. Sepi pasti. Jadi sulit produktif karena godaannya lebih besar saat sendiri.
Untungnya, aku punya teman pejuang skripsweet. Jadi, untuk mengisi waktu (somehow ku jadi punya banyak waktu luang selama tinggal berdua, wkwk) temanku ini kupanggil ke rumah untuk kerja skripsi bareng.
Alhamdulillah, selama dia ada di rumah, Ahnaf bisa diajak kerja sama. I love you, nak. ❤️ Ahnaf ga banyak tingkah. Biasanya kan kalau laptop nyala, dia antusias mau ngetik juga. "Ahnaf mau kerja," katanya. Tapi selama ada tamu, dia kalem. Diam aja disampingku duduk. Lama-lama ambil posisi baring, lalu tertidur dinina bobokan oleh suara kami. Haha anakku.
Tapi kalau tinggal berdua aja dengan Ahnaf tanpa aktivitas yang bermakna (kadang aku pengen leha-leha juga, astagfirullah), disitu aku diuji. Ahnaf kan butuh mengeluarkan energinya lewat aktivitas berat, seperti lari-lari, lompat dan semacamnya. Aku yang lagi hamil mana bisa lah temani dia main kejar-kejaran atau petak umpet. Sofa dipanjatin terus ya bosan. Bisa sebenarnya aku modifikasi biar variatif mainnya. Tapi ya itu tadi, mager. :)
Sementara Ahnaf, bila kebutuhannya itu tidak terpenuhi, dia jadi mudah tantrum, banyak mau tapi pas dikasih malah ngamuk. Jadi apa yang kulakukan untuk memfasilitasi energinya yang berlebih?
Main ke Taman Kota
Mager kalau diikuti, ga bakal hilang dalam 1-2 jam. Apalagi tinggal sendiri. Demi memutus mata rantainya, mari lah kita keluar rumah Naf, membawa beban masing-masing.
Di pusat kota Makassar, ada taman yang luas. Namanya taman Paku Sayang. Kami kesana sore hari, karena pagi adalah waktuku me time. HOHO.
Waktu aku kesana, rame! Ramai untuk ukuran PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Aku sebisa mungkin jaga jarak. Kerumunannya itu udah kayak pasar malam loh. For real.
Padahal orang-orang cuma lari-larian doang, ga ngumpul. Itu berarti pengunjungnya berlebih, ckck. Pada bosan kali ya, tinggal di rumah terus.
Kami disana ikut jogging 1 putaran setelah mampir sebentar di arena bermain. Sayangnya, anak-anak banyak yang tidak pake masker, aku tidak bisa membiarkan Ahnaf berbaur dengan mereka. Lagipula, Ahnaf tidak mau mendekat kalau tidak ditemani. Hiks. Ini efek pandemi atau emang setelan pabrik?
Jalan-jalan di Pantai Losari
Tempat main favorit aku nih. Luasss dan kalau banyak orang pun, masih bisa dihindari. Tiap kesana, pikiranku cuma di gerobak-gerobak doang wkwk. Pengen kulineran maksudnya haha, tapi dengan kasus Covid yang masih tinggi, berisiko banget makan diluar yang penjualnya ga ikut protokol kesehatan. Mejanya masih berdekatan, ga pake masker, dan jarak antara penjual satu dengan yang lain seperti truk gandeng, tak berjarak.
Akhirnya kami cuma jalan-jalan doang. Lari-lari, lihatin aktivitas orang disana. Walaupun sepele, anehnya, bisa jadi mood booster loh. Seharian penuh berdua di rumah, pas lihat banyak orang beraktivitas penuh semangat, kebahagiaan mereka ikut tertular. MasyaAllah.
Keliling Kota Naik Motor
Ini bisa dibilang buang-buang bensin sih. Tapi worth banget saat suntuk di rumah melanda. Biar ga dibilang gabut amat, sebelum pulang kami singgah beli es teler di jalan Mappanyukki. Sengaja dicatat biar ingat.
Ya Allah, entah apa karena aku doyan alpukat atau lagi dehidrasi. Pokoknya ni es teler juara 2 setelah 77. Harganya murce! 14k untuk es teler alpukat dengan isian nangka, daging kelapa, cincau, mutiara, dan ofc kacang khas Makassar, kacang disco yang manis dan renyah-nyahhh.
Seneng banget ketemu es teler diluar ekspektasi. Mirip si legend, tapi murce. Hiks. Ahnaf juga doyan loh. 2 gelas kami tandaskan bersama.
Menjemur Pakaian Diluar
Gapapa kan ini masuk di list? Ga rempong ngeluarin motor plus cuan, malah seperti menyelam sambil minum air. Urusan rumah dapet, kebutuhan Ahnaf terpenuhi. Selama ada suami di rumah, kami biasanya menjemur dalam rumah, selain ada matahari yang masuk, anginnya juga cukup untuk mengeringkan pakaian.
Kalau diluar resiko terpapar udara kotor. Apalagi disamping rumah ada yang kerja bangunan. Yaudasi masih bisa diatasi dengan diangin-anginkan kembali sebelum dilipat. Daripada Ahnaf suntuk dalam rumah, mending ajak kerja pekerjaan rumah. Se-simple membawa pakaian dari ember ke tempat jemuran. Setelah itu, baru Ahnaf main bebas di taman.
Membebaskan Ahnaf Manjat Everywhere He Wants
Tangga, sofa, meja belajar, silahkaaaan, Naf. Ini jalan terakhirku bila kehabisan tenaga mengawal anak balita diluar rumah. Walaupun membiarkan dia manjat lebih menguras "tenaga dalam" sih karena khawatir.
Tapi ada yang patut disyukuri, Ahnaf mudah diberitahu. Dia juga sadar kemampuannya sampai mana. Jadi, kalau Ahnaf merasakan bahaya, aku dipanggil untuk bantuin dia. Cukup tawakkal sambil tetap diawasi tentunya.
Selesai. Begitulah kegiatanku berdua bersama si toddler selain baca buku, menggambar, nonton tv (adanya TVRI doang sih) dan membantu mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah. Segala puji bagi Allah yang memudahkan segala urusan. ❤️
______________________________
Midnight, at Bukit Baruga.
