Ceritakan tentang hari pertama Anda saat menjalani sesuatu — sekolah, bekerja, menjadi orang tua, dll.
Dari semua pengalaman pertama, yang paling menyenangkan adalah ketika pertama kali menempuh pendidikan di sekolah negeri. Untungnya, pengalaman pertamaku ini saat aku masih bocah. Di tahun 2006 akses internet juga belum sampai di perkampungan, sehingga aku tidak perlu banyak persiapan untuk diterima oleh mereka. 😌
Meski begitu, aku tetap saja dianggap ‘barang baru’. Memakai jilbab di usia SD memang agak asing saat itu ya, apalagi daerahnya belum terjangkau oleh lembaga dakwah.
Selama aku duduk di ruang kepala sekolah menunggu Abah selesai berbincang, beberapa calon teman kelasku mengintip di balik gorden. Kalau aku tidak salah ingat, ruang kepala sekolah berdampingan dengan kelasku sehingga mereka bebas mengintip dan menguping pembicaraan.
Aku ingat sekali, ketika diintip mereka, aku terus memandangi sepatu putihku. Baiklah ini pasti bikin mereka takjub. Aku belum punya seragam merah putih saat itu, jadi pakaian yang kupakai seluruhnya berwarna putih dari jilbab sampai sepatu. Aku sadar aku terlalu mencolok:))
Tiba saatnya masuk kelas. Tanpa ditemani Abah lagi. Sedikit menakutkan.
Dengan langkah canggung, aku mengikuti kepala sekolah di belakang. Postur tubuhnya tinggi kurus dengan pakaian coklat khas PNS. Beliau memakai hijab segitiga yang agak tipis tapi tidak terawang. Kabar baiknya, beliau tidak berkonde 😌 Justru dengan penampilan sederhana, beliau jadi terlihat jauh lebih bersahaja. Benar-benar vibes kepala sekolah yang bijaksana, haha.
Tepat di depan ruang kelas berlantai semen, ibu guru yang bakal kuketahui sebagai wali kelas, memintaku untuk memperkenalkan diri di depan.
Anak-anak terdiam.
Aku menarik napas dan mulai mengangkat suara, “Saya …. dari Ujung Pandang.” Suaraku terdengar jelas dan lantang dari luar. Hal ini baru kuketahui oleh Abahku yang bercerita dengan bangga pada Ummi sepulang sekolah. Rupanya beliau menungguku memperkenalkan diri. ❤
Ruang kelas hening hingga salah seorang anak bertanya, “Ujung Pandang? Itu dimana?”.
Oke, sepertinya aku salah memperkenalkan nama kota asalku, pikirku saat itu. Ibu guru kemudian menjelaskan sedikit bahwa Ujung Pandang adalah Makassar. Aku tidak ingat persis kata-kata beliau. Kemudian akhirnya aku diminta untuk duduk di kursi yang kosong.
Masih dalam keadaan shak-shik-shok melihat ruang kelas yang digabung laki-laki dan perempuan, aku terus berjalan di antara bangku panjang dan duduk di barisan perempuan. Maksudku depan sampingnya perempuan. Aku ga ingat bagian belakang siapa :))
Sebelumnya kuperjelas, awal aku bersekolah SD di sekolah swasta Islam. Kelasnya tentu dipisah antara laki-laki dan perempuan, meski masih satu lingkungan. Jadi, ketika pertama kali tiba di sekolah negeri, aku merasa saaangat asing, terlebih mereka semua memakai rok dan celana pendek.
Selain pandanganku mendapati hal baru, hidungku pun membaui aroma baru. Aroma rambut para gadis cilik tak berjilbab itu cukup mengejutkanku. Baunya seperti bau sampo orang dewasa, bahkan rambut mereka juga panjang-panjang. Beda denganku yang terus dipelihara pendek karena dianggap ummi belum sanggup mengurus diri sendiri. Tiba-tiba aku merasa anak kecil sendirian.
Lebih mengejutkan lagi saat pergantian mata pelajaran, mereka tanpa diberi aba-aba segera berganti baju di tempat. Sekali lagi kuulang. Mereka ganti baju di tempat. Di tempat duduk masing-masing!
Ini sungguh tidak benar, rintihku dalam hati. Harusnya mereka ke kamar mandi untuk ganti baju. Beberapa dari mereka tak peduli baju dalamnya terlihat. Ya masih kelas 2 SD sih, tapi tetap saja aneh bagiku. Beberapa lainnya mencoba saling membantu dengan menghalangi sisi yang terbuka agar tak terlihat oleh pandangan siapapun saat berganti.
Di titik ini aku bersyukur datang di hari olahraga. Aku belum dapat seragamnya jadi tak mungkin disuruh ke lapangan berbaris. Ada satu dua anak yang bertanya mengapa aku tak siap-siap? Entah saat itu kujawab apa sampai akhirnya kelas kosong dengan hanya diriku seorang di dalam.
Mungkin.
Aku juga kurang ingat, haha.
Skip olahraga. Di waktu pulang, aku segera dikerumuni, bak semut menemukan gula. Cielah. Aku tak ingat persis apa yang mereka tanyakan. Satu hal yang membuatku kaget adalah, seorang anak laki-laki dengan suara lantang tiba-tiba mengatakan bahwa dia menyukaiku. Aku terlihat seperti malaikat katanya.
Well, aku memang berpakaian serba putih 😠Tapi..
This is our first meet.
Kita bahkan belum berkenalan, mengapa tiba-tiba bilang suka? Ehm baiklah ini bisa mengkonfirmasi teori bahwa laki-laki memang makhluk visual. Sejak dini. #mulai mengkhawatirkan anak lanangku, hm.
Jujur aku penasaran, bagaimana perasaanku saat itu ya? Kalau kutelisik kembali, aku memang tak merasakan apa-apa selain berharap Abah cepat menjemputku tepat di depan kelas. Aku belum berani melangkah ke depan gerbang dengan rombongan merah putih yang mengerubutiku.
Alih-alih Abah datang, yang muncul justru kakaknya si laki-laki. Kembali adeknya itu mengulang pernyataannya sehingga kakak perempuannya datang menghampiriku. Dia bilang, “Hei, adikku bilang dia suka sama kamu.”
“…”
…
Haha aku tidak ingat apa yang kukatakan. Sepertinya aku diam saja. Lalu atas pertolongan Allah, :)) Abah dengan kemeja hitam bergarisnya muncul, jadi aku terselamatkan dari situasi baru tersebut.
Selesai!
Cerita hari pertamaku sekolah sampai disitu saja. Terimakasih untuk pertanyaan ini, Jetpack. 🙂↕️ Aku jadi bisa menceritakan secara utuh apa yang kuingat semasa pertama kali bersekolah negeri di Sulawesi Tenggara.
Banyak hal menarik yang bisa kuingat dengan jelas selama tinggal di kampung Abahku. Jadi tergoda untuk bercerita lagi, haha.

