Hai!
Aku ingin bertanya. :)
Aku ingin bertanya. :)
Kenapa ya setelah pindah rumah tubuh jadi ga mau diajak kerja sama? Bawaannya pengen rebahan aja gitu, malas-malasan.
Kalau aku selami diriku sendiri, alasan utamanya mungkin haid, ditambah sakit gigi dan tak ingin saja tinggal di rumah yang baru itu haha.
Aku yakin sih penyebabnya kedua hal tersebut karena sempat dimention oleh kakak-kakak di channel satu persen. Mereka bilang, malas dan emosi berada dalam satu tabung. Mereka saling berkaitan.
Aku memang mengalaminya. Semenjak pindah kesini, aku takut dan ga percaya diri karena cuma tinggal bertiga dengan nenek. Aku tidak yakin mampu menjalankan peran seperti ummiku meski sebelumnya aku sudah sering melakukan pekerjaan rumah ketika ummi ikut abah keluar kota.
Namun selera makan nenek tinggi, aku jadi tak berdaya menghadapinya. Lebih baik ummi kesini mengurus nenek dan aku mengurus adek-adekku huhu. Selera makanku dengan adek-adek sama persis, hampir mereka tak pernah menolak apa yang kumasak. Sementara nenek.. :(
Selain itu di rumah aku hampir tak punya sesuatu yang dapat membangkitkan energi. Tantangan menulis yang kugadang-gadangkan sebagai sarana membumbui jalan cerita hidupku setelah resign, hanya sebentar saja membangkitkan adrenalin, sisanya butuh komitmen. Begitu juga dengan rasa senang ketika menghias bullet journal. Memulainya itu berat karena otakku sudah menolak duluan untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif. Sama halnya dengan menulis sebenarnya. Lalu tantangan melakukan Quran journal? Jangan ditanya. Rintangan dari diriku sendiri saja sudah berat kulewati, ditambah syaitan yang pastinya ikut bekerja agar aku tak semakin dekat dengan al Quran HUHUHU.
Lalu sebenarnya bukan itu saja. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Apa ya?
Oh ya aku tahu. Waktu tidurku berantakan. :) Tidur jam 12 malam bangun jam 8. Parah. Kalau begini terus aku takut ini menjadi sebuah kebiasaan yang sulit diperbaiki.
Aku juga sudah tidak pernah melakukan planning. Kayak apa yang mau direncanakan kalau aku hanya tinggal di rumah? Walaupun idealnya harus tetap nulis jadwal karena kita tak bisa melakukan sesuatu yang hanya dibayangkan dalam pikiran.
Oke berarti kuncinya ada di dua hal.
Tidur cepat - bangun lebih awal, dan bawa Ahnaf ke sekolah. Kalimat pertama sudah saling melengkapi dan tidak bisa dipisah. Sementara kalimat kedua aku harus melakukannya karena banyak hal yang harus kukerjakan di luar rumah.
Ahnaf tidak bisa terlalu lama terpapar oleh polusi, mengikutiku kemanapun aku pergi, jadi mau tidak mau aku harus membawanya ke sekolah. Bila urusan luar rumah selesai, seperti berbelanja peralatan dapur dan bahan makanan, akan lebih mudah untukku kembali beraktivitas seperti rutinitasku dahulu.
Aku juga harus kembali memiliki waktu pagiku! Satu-satunya waktu dimana aku bisa berinteraksi dengan diriku sendiri tanpa ada dorongan untuk memenuhi hak orang lain. 1 jam dibagi menjadi 3 sesi. Sesi pertama olahraga, kedua ibadah, dan sesi terakhir... belajar! Ah membayangkannya saja sudah menyenangkan.
Tapi sebelum itu aku harus memastikan kasur sudah rapi, nenek tidak terganggu olehku -saat ini aku tidur di kamar nenek :)- dan tubuhku sudah segar oleh air dingin! Ya Allah tantangan ini lumayan menantang:)
Mandi di tengah malam rasanya agak aneh. Sebaiknya digeser saja lah ke waktu pagi. Biar ga ngantuk, mudah-mudahan cuci muka dan wudhu udah cukup.

