Tips Memilih Dokter Kandungan

Pengalaman banyak memberiku pelajaran. Selama 3 tahun berturut-turut, alhamdulillah, aku terus diamanahi kehamilan. Meskipun tidak semuanya berbuah kelahiran, setidaknya aku jadi mempelajari betapa berharganya amanah Allah itu. 

Dalam jangka waktu tersebut, aku mengalami kelahiran normal seorang bayi laki-laki sehat, cerdas dan penghamba Allah. Setahun lebih kemudian, Allah menyatukan sel telur dan sperma menjadi sebuah kehidupan baru. Tak lama dia tinggal dalam rahimku, karena 2 bulan kemudian Allah memilihnya untuk gugur. 2 bulan kemudian, waktu yang sangat cepat bukan? Allah kembali mengamanahi seorang calon bidadari. Yang memberiku pengalaman baru karena selama hamil bidadari, aku super duper extrovert ;) Aku jadi cinta silaturahmi, cinta jalan-jalan. 

Dari mereka lah aku mendapatkan pengalaman periksa oleh dokter kandungan. :) Semakin sering berpindah dokter, semakin menurun pula ekspektasiku terhadap para dokter, wkwk. Hanya beberapa yang jadi poin utama bagiku untuk menentukan dokter kandungan. 

1. Tenang

Paling utama dari ratusan indikator. Ketenangan saat berbicara -tidak seperti dikejar oleh sesuatu-, sabar menunggu pasien curhat, melakukan tindak lanjut pada tubuh -utamanya vagina- dengan sentuhan penuh perhatian wkwk, dan terakhir, tatapan mata yang menenangkan. 

Aku tidak tahu apakah bentuk mata mempengaruhi. Tapi yang kurasakan saat diperiksa oleh 6 orang dokter, kelopak mata atas yang lebih melengkung, terlihat sangat menenangkan. Hahah. 

2. Prosedur Pemeriksaan

Mulai disini, aku biasanya udah gemetaran juga tuh. Seakan ada tombol on, tiap melihat peralatan dokter, tubuhku otomatis gemetar hebat sampai ke kaki. 

 Aku ga tahu kalau prosedur pemeriksaan ikut mengambil alih dalam menghadirkan ketenangan. Di RSIA Kartini tadi, mereka melakukan prosedur USG dengan rapi, tenang, dan menghormati bagian tubuh wanita. 

Punggungku diberi bantalan agar posisinya lebih tinggi, dan kakiku ditutupi selimut hangat. Udah barang normal ruang praktek dokter dinginnya minta ampun. Karena selimut tadi, panic attackku berkurang drastis. Aku jadi bisa menikmati kegiatan dokter, haha.

3. Memberi Penjelasan

Yang rinci, intonasi rendah dan menunjukkan ketertarikan dengan masalah pasien. :) Saat diberi perhatian seperti itu, rasa percaya pada dokter timbul dengan sendirinya. Karena kepercayaan sudah terpupuk, perasaan kita pun jadi lebih legowo. Ngga tertekan lagi seperti sebelum masuk ruangan.

Masih ada lagi sih sebenarnya. Tapi aku dah benar-benar ngantuk. :( Jadi sudah dulu, ya. Terimakasih bila sudah membacanya dari awal hingga akhir, hoho.


Baruga,

Midnight.

Back to Top