Rasa Malas Muncul Tiba-tiba. Apa Sebabnya?

 Sebenarnya malas itu pasti ada penyebabnya. Ga sekonyong-konyong menghampiri tanpa permisi. Hanya saja aku malas mencari tahu, dan malas membuat judul. :)


Wow. Mengulang kata negatif terus bisa berbahaya nih. Bisa-bisa aku mencap diriku sendiri pemalas, naudzubillah min dzalik. Baiklah, cukup sampai disitu, aku tidak akan menuduh diriku malas lagi. Karena sekarang aku dikuatkan Allah menyelesaikan rutinitas yang tadi tertunda. Termasuk menulis untuk setoran KLIP. :)

Sifat malas ini juga sudah kubuang jauh-jauh sejak hamil Adiba. Atau melalui Adiba lah Allah menghilangkan rasa malas, sehingga aku menjadi sangat ketat soal rutinitas dan aktivitas orang lain. :)

Ehem, jadi teringat lagi dengan bidadari.

Ya, rasanya ini sebab pertama aku jadi mager ngapa-ngapain. Padahal tadi pagi, pertama kalinya sejak LDR, aku langsung membersihkan dan memasak sarapan setelah shalat subuh. Urusan rumah semuanya selesai pukul 9 pagi. Yah soalnya disambi dengan main game juga, haha.

Setelah itu ada pesan dari teman yang minta dijemput di rumahnya. Daerah pelabuhan, sekitar 30 menit lebih dari rumah. Kami berencana berangkat bareng ke acara aqiqah teman, yang lokasinya sangat dekat dari rumahku. :)

Hahaha. Karena alasan itu aku jadi ga berani dong minta izin ke orangtua. Apalagi suami. Sudah pasti ga diizinin karena jauhhh.

Tapi aku ga tega. Temanku ini hamil besar dan harus bawa anak. Mana mungkin diminta bawa motor bersama kado yang ukurannya jumbo.

Jadi ya udah deh, dengan sukarela dan bahagia -aku suka banget berada di wilayah kota- wkwk, aku dan Ahnaf meluncur ke rumahnya dengan drama sana sini.

Mataku ditabrak serangga lah, dimasukin debu, Ahnaf kejedot bibirnya karena ban motor yang kulaju kencang masuk ke dalam lubang. Ga dalam sih tapi kencang :) Kasihan banget anakku.

Terus ditengah teriknya matahari kesasar juga. Pas sampai di dekat rumah teman, bingung mau parkir dimana karena jalanan penuh mobil parkir.

Rupanya milik para awak kapal yang kontrakan disitu. Pantas saja mobilnya ga kaleng-kaleng.

Okay ini mulai melantur. -_- Pas sampai di rumah teman, aku ditanyain, udah izin belum ke suami? :)

Hmm. Mungkin saja, masalah yang kuhadapi selama di perjalanan, akibat tidak meminta izin ke suami. Udah ketahuan sih dari pertama kena serangga di mata. :)

Dan betul saja, setelah dapat izin yang lumayan ga enak kalau dibaca, wkwk, urusan kami jadi serba mudah. Teriknya matahari tak begitu terasa karena ada awan menutupi. Mataku meski tak ditutupi kaca helm, terterpa angin sejuk sepanjang jalan. Ga ada tuh debu atau serangga yang salah mendarat. Alhamdulillah, huhu.

Sesampainya disana, yang menjadi sebab kedua perasaanku tak enak adalah mengingat Adiba yang telah menikmati SurgaNya. Melihat bayi baru lahir, apalagi saat bertemu dengan ibunya, jujur aku hampir saja meledak.

Lidahku kugigit kuat agar tidak mengeluarkan air mata di tengah kebahagiaan acara mereka. Ini berat. Kalau saja kami tidak bergegas keluar, mungkin aku sudah mewek dan memancing para tamu untuk mencari tahu.

Kupuaskan rasa sesak terbang bersama angin saat mengendarai motor untuk pulang. Tak berhenti pula kuingatkan diriku bahwa Adiba sekarang lebih bahagia daripada bayi-bayi yang baru lahir. Mereka yang lahir akan menghadapi dunia dengan segala masalahnya. Sedangkan Adiba...

Begitulah. Kedua alasan tadi masih berhasil kutangani dengan izin Allah. Maka keduanya bukan penyebab aku menjadi malas gerak. Yang ketiga dan keempat ini tidak sanggup kuatasi. Sebab itulah mager menghampiri.

Ketiga, merasa tak nyaman dengan rekan guru yang lebih tua. :) Maksudku aku tak masalah dengan perbedaan usia meskipun itu pasti membutuhkan skill komunikasi yang lebih hati-hati dibanding dengan kawan seumuran. Tapi aku merasa tidak enak karena dia tidak begitu welcome dan terbuka. Benar ini semua prasangka, dan aku kesulitan mengendalikannya hingga berhasil menurunkan semangatku berbuat produktif.

Yang terakhir juga berasal dari kesalahanku. Karena merasa tertekan dengan pengalaman perdana berada di lingkungan kerja, aku kemudian menuruti rasa malas dengan rebahan sambil cuci mata di platform olshop terbesar.

Kutahu kalau keuangan kami sedang tidak baik-baik saja. Ada impian besar pula yang harus jadi prioritas. Maka itulah aku merasa down karena sangat ingin mengangkut semua isi keranjang ke rumah, ketika aku tahu itu tidak mungkin untuk saat ini. :(

Sekarang kesimpulannya, rasa malas bisa datang apabila dijangkiti pikiran negatif, merasa tak berdaya, dan tak optimis dengan masa depan. Semoga Allah beri petunjuk dan kekuatan untuk kita semua agar mampu menjadi pribadi lebih baik dari waktu ke waktu, insyaaAllah
Back to Top