Beratnya Hidup Rasulullah ﷺ

Kehidupan Rasulullahﷺ itu penuh dengan keadaan yang sangat sangat sulit, bahkan sebelum ia menjadi Rasul. Misalnya Ali bin Abi Thalib menggambarkan bahwa وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ (QS. ad-Dhuha ayat 8). عَاۤىِٕلًا berasal dari kata bahasa Arab yang berarti membutuhkan seseorang, bersandar kepada seseorang. Seperti seorang anak yang sangat membutuhkan ibunya, dan ibunya itu menjadi عَاۤىِٕلًا baginya. 

Maka hubungan ini, Allah menjelaskan bahwa seseorang yang membutuhkan adalah ‘aa’il dan Rasulullahﷺ digambarkan, “Dan Dia mendapatimu dalam keadaan ‘ila”. Dia mendapatimu dalam keadaan sangat membutuhkan. Dengan kata lain, seorang anak itu sangat membutuhkan ayahnya, sangat membutuhkan ibunya. 

Dan ayahnya telah wafat bahkan sebelum ia melihatnya, ibunya wafat saat ia masih sangat kecil, ia kehilangan kakeknnya yang sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri, dan pada saat ia sangat membutuhkan dukungan, Abu Thalib juga wafat. Dan pada saat pertentangan dari suku Quraish kepadanya semakin memburuk, sosok yang sangat ia butuhkan yakni istrinya, juga wafat. Maka ia terus menerus ditinggal wafat oleh sosok yang dibutuhkannya. Semua manusia membutuhkan dukungan emosional, begitu juga dengan Rasulullahﷺ. 

Pada saat peristiwa perjanjian Hudaibiyah, ketika para sahabat menolak untuk melepaskan pakaian ihramnya, ini adalah saat yang mengejutkan dalam perjalanan hidup Rasulullahﷺ. Orang-orang yang beriman itu tidak taat, orang-orang munafik itu tidak taat pada momen perjanjian Hudaibiyah ini, karena para sahabat saat itu kecewa, mereka jumlahnya ribuan bahkan ada yang mengatakan jumlahnya 1800 orang. 

Mereka berdiri disana dan mereka siap melaksanakan haji, mereka berjalan dari Madinah sampai kesini dan mereka mengambil jalan yang jarang dilalui manusia karena mereka khawatir diserang untuk sampai ke Hudaibiyah harus melalui jalur yang bahkan tidak dilalui oleh binatang. Itulah mengapa di bagian bahwah ihram mereka tertutupi darah karena kulit kaki mereka terkelupas, dan sepatu mereka meleleh karena bebatuan yang panas. 

Itu adalah jalur yang diusulkan oleh seorang sahabat dan bukan jalur normal. Akhirnya dimulailah negosiasi dengan Quraish dan ini tidak mudah. Dalam pikiran sahabat mungkin seperti ini, “Setelah semua kesulitan ini, kita akan tetap berhaji, kan? Setidaknya kita tetap bisa mengkurbankan hewan yang kita bawa untuk haji.”

Setelah bernegosiasi, Rasulullahﷺ berkata, “Kita kembali ke Madinah, kita tidak jadi berhaji.” Para sahabat amat sangat terkejut. Kalau ini bukan menimpa sahabat, maka akan terjadi kerusuhan. Namun para sahabat, kalau kita mengira ini adalah bentuk ketidaktaatan, namun sebenarnya ini adalah ketaatan sebab mereka tidak mengatakan apapun.

Satu dua orang memang mengamuk, tapi yang lainnya tetap diam. Hanya saja mereka tetap tidak mau melepaskan ihramnya. Ini adalah pertama kalinya mereka tidak mau mendengarkan Rasulullahﷺ, mereka diliputi kesedihan karena tidak bisa berhaji, juga diliputi oleh kebingungan karena Rasulullahﷺ bermimpi bahwa mereka akan berhaji. Namun kini, ia sekarang mengatakan kita kembali dan tidak jadi berhaji. Bahkan Umar bin Khattab terkejut. Di momen kesedihan itu, Rasulullahﷺ kembali kepada ibunda orang beriman, istri Nabi. Ia terus menerus kembali dan membutuhkan dukungan. 
Back to Top