Saat Fresh Graduate Memilih Tempat Kerja

 Memilih tempat kerja katanya. Hahaha. Sungguh, sebagai seorang fresh graduate, rasanya ga pantas banget milih-milih tempat kerja. Yang penting sesuai dengan passion dan background pendidikan mah cukup. Karena banyak instansi menerapkan aturan pengalaman minimal 1 tahun untuk bekerja di tempat mereka. 

Pasrah pada Allah saat Memilih Tempat Kerja

Yah, begitulah drama pekan ini. Aku yang baru lulus bulan lalu, excited banget masukin CV di setiap sekolah yang buka lowongan. Semua. Termasuk di luar kota. :)

Kenapa coba? 

Hahaha. Aku tuh pengen banget emang tinggal di daerah agraris, dimana anak-anaknya lebih teratur perilakunya, lebih beradab dibanding masyarakat kota. 

Walaupun betul, zaman udah berbeda. Yang di pedesaan pun kalau sudah terakses TV dan internet pasti ya sama aja, tapi menurutku mereka masih lebih sopan, melihat keluarga yang tinggal di kota madya sana, tutur katanya halus dan sopan santunnya menyilaukan, wkwk.

Jadi aku tuh pengen banget! Huhu. Bahkan aku sempat minta ke Allah biar dikasih tempat tinggal disana. 

Lalu? 

Hebatnya, Allah segera mendatangkan peluang itu. :)

Harusnya nih, lowongan kerja yang ditawarkan suamiku itu di Makassar. Tapi karena aku terlambat apply, mereka minta aku ngajar di daerah pegunungan. Wohhh, aku langsung merasa, INI JAWABAN ALLAH! Tanpa pikir panjang, aku meng-iyakan dan saat itu juga tes wawancara daring lalu aku dinyatakan lulusss.

Wow wow. Excited banget dong, hahaha. Ini pertama kalinya aku wawancara kerja, dan mendengar penerimaan mereka, jujur, aku amaze sendiri. :)

Setelah itu, baru lah aku ngabarin ke suami dan orangtua. Bisa ketebak kan apa jawaban mereka. Haha. Jelas banget lah dilarang. 

Aku sampai harus pasang muka badak meskipun tidak saling menatap. Kali pertama setelah wawancara kutolak, dan yang kedua pun seperti itu juga. Sudah kuterima sebab mendapat izinnya tapi lagi-lagi harus batal karena keluargaku ternyata belum lapang hati memberikan kami kesempatan tinggal disana. 

Hm :) Meskipun masih ingin hingga sekarang, aku tak mampu lagi memohon pada mereka untuk merekrutku bila sekolah di Makassar butuh seorang guru.

Oke, biar lebih jelas dan ketahuan mana yang lebih utama, sini sini, aku uraikan argumenku.

1. Praktis hanya perlu berjalan kaki ke sekolah

Iya. Mereka memfasilitasi tempat tinggal, makan, dan free WiFI untuk guru yang datang dari luar daerah. Sebab kepraktisan dan keamanan untuk Ahnaf, aku perlu mendapat sekolah dekat dengan tempat tinggal. Tidak perlu naik kendaraan, kan. Sebab Ahnaf ikut kemana pun aku pergi. :) Tidak ada yang mampu menjaganya, satu keluarga ini punya segudang kesibukan tersendiri.

2. Ahnaf suka tidur saat berkendara!

Dan ini beneran berbahaya, ya Allah! Saat tidur, seluruh badannya lemesss ga kayak orang dewasa, paling kepala aja yang terantuk-antuk. Posisi duduk Ahnaf di depan dengan kursi pengaman.

Kursi bonceng anak
Sumber: https://m.bukalapak.com/p/motor-471/aksesoris-motor/aksesoris-motor-lainnya/459w65a-jual-boncengan-anak-kursi-boncengan-anak-boncengan-anak-motor-matic-motor-bebek-motif-cars

Meski sudah pakai seat belt, tetap aja badannya ga bisa tegak. Udah kebayang kan betapa mengganggunya kondisi seperti itu? Untuk berbelok dan saat macet, apalagi, ga bisa pokoknya pegang kendali dengan satu tangan. Gak terhitung berapa kali aku hampir nabrak atau oleng. Huhu.

3. Ga yakin bisa konsisten datang awal waktu

Kalau jam 7 udah harus ada di sekolah, berarti jam 6 dah mesti on the way. Artinya, Setelah shalat subuh tuh aku harus langsung gerak. Beberes rumah, buat sarapan dan makan siang, bangunin Ahnaf yang kemungkinan besar penuh drama tangisan karena dipaksa bangun, haha. Semuanya harus selesai dalam waktu 1 jam. Ya Allah, serba cepat gini, apa aku masih bisa waras sampai di sekolah? 😂

4. Pengen ngajar di tempat baru dengan jumlah anak didik 20an haha

Serius. Ikut bergabung dengan sekolah yang baru rintis itu, peluangnya dilihat salah keciiil. Kita ga bakal dijutekin kalau ga sesuai dikit sama keinginan. :) Ya ga semua gitu sih, wkwk. Tapi rasa aman berinovasi tentu lebih nyata terjadi di tempat baru, dibanding sekolah dengan branding terkenal.

5. Udah jatuh cinta dengan visi misi sekolah

Almost same dengan visi misiku ingin mengajar. Makanya condong banget ingin kesana, hiks. Jadi semangat pengen aplikasikan ini itu. Dengan visi misi yang sama pula, aku jadi bisa mengeluarkan semua potensi dan pengetahuanku sepenuh hati.

Udahh, itu saja argumenku. Biar adil, mari kita lihat argumentasi keluarga dan orang sekitar, mengapa aku tidak boleh tinggal di luar daerah.

1. Kalau ada apa-apa, bagaimana?

Iya, ada apa-apa itu seperti apa? Seakan meragukan Allah yang Maha Menjaga dan Pelindung terbaik. Hhhh. Mereka sebenarnya mengkhawatirkan kami bahwa tidak selamanya aku atau Ahnaf sehat. Siapa yang akan membantuku bila salah satu dari kami sakit? Atau ketika ada bencana, naudzubillah, akan sulit untuk saling terhubung. Mereka semua berhitung dengan kondisi alam sekarang ini.

Yaah, masih belum berhasil menggoyahkan keinginanku. Lanjut pembelaan kedua.

2. Jangan buang kesempatan berbakti dengan orangtua

Dan ini yang berhasil mengikis ego. Itu benar, setiap waktu bersama orangtua, adalah waktu yang berharga untukku berbakti. Mereka juga lebih terlihat bahagia bila ada cucunya di rumah.

Untuk itu, aku memutuskan tetap tinggal bersama mereka. Ridha Allah mengikut ridha orangtua. Sungguh selama itu, kupasrahkan diriku kepadaNya, apapun yang terbaik bagi Allah walau di mataku ia bukan hal baik, aku akan tetap mengikutiNya karena Dia yang Maha Tahu dan Maha Baik untuk kami hamba-hambaNya.

Alhamdulillah bini'matihi tathimmushshaalihaat. 
Back to Top