A Letter from Still Adiba's Mommy

 

Surat Ibu untuk Bidadari
Reminder untuk Ibunya Bidadari, Adiba

Surat I, tanggal 10 Oktober 2021

Anakku Adiba sudah berbahagia, bergembira bersama Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan Tuhan seluruh alam, Allah, di Surga. Sesungguhnya kebersamaan kita nak di dunia, tidak ada apa-apanya dibanding apa yang kamu peroleh sekarang di tempat terbaik, Jannah.

Terbayang Adiba masih dalam perut ummi. Selalu ingin ummi keluar bepergian kemana saja menikmati dunia, dan itu sepertinya adalah caramu, cara Allah memperkenalkan dunia kepadamu nak. Karena engkau tidak sempat lagi melihatnya langsung, alhamdulillah. Allah menjagamu dari kenikmatan yang fana, dan langsung memberimu hadiah tak terkira, kebahagian yang hakiki, paling, paling indah di Surga.

Ummi saat ini bingung. Seperti kehilangan amanah dan pekerjaan. Aku tidak memiliki kehamilan lagi yang bisa kujaga dengan pertolongan Allah. Aku juga tidak punya amanah bayi untuk diASI dan diasuh. Sementara ASI ummi mengalir deras dengan baunya yang khas, mengingatkanku pada saat masa menyusui kakak Ahnaf.

Ya Allah...
Tidakkah Engkau Maha Penyayang? Engkau Maha Pengasih dan Penyayang ya Rabbiii, yaa Rabbanaa... Tolong kuatkan hamba untuk lepas dari kungkungan kesedihan ini. Berikan hamba balasan indah yang terbaik di dunia dan akhirat. Bawalah hamba ke Madinah awal tahun depan ya Allah. Dengan Ahnaf dan janin yang kukandung. Ya Allah... Amanahkan lah hamba kembali, hambaMu yang shalih/ah yang membawa kebaikan besar untuk agamaMu. Yang menjadi sebab bagiku dan abinya masuk Surga...


Surat II, tanggal 11 Oktober 2021

Adiba anakku sayang. Maafkan ummi nak ya selama kamu di perut, ummi tak henti-hentinya merasa takut akan kehilanganmu. Dan benar itu terjadi atas kehendakNya. Ummi sangat takut dan banyak khawatir tak dapat mengasuhmu anak perempuanku yang akan hidup di akhir zaman. 😭 Sebab itulah mungkin Allah memilihkanmu tempat terbaik di sisiNya, di sisi kekasihNya, di kampung halaman kita, Surganya Allah. 😭

Walau begitu nak, ummi sangat sangat senang! dengan kebersamaan kita selama 9 bulan lamanya. Adiba mau diajak bersusah-susah selama di perut ummi. Adiba tidak pernah memberontak saat ummi memposisikan perut yang membuat Adiba tidak nyaman. Adiba juga senaaang sekali kalau ummi jalan-jalan, makan tepat waktu dan makan makanan yang sehat. Lalu waktu ke acara nikahan full musik, Adiba memberontak. Adiba banyak gerak. Ketika ummi keluar, Adiba baru tenang kembali. MasyaAllah anakku. Dari dalam perut kamu sudah membenci suara musik. Berbeda saat mendengarkan ummi mengaji atau murottal. Adiba bergerak lembuttt. Seperti senang mendengarkan firmanNya. 😭

Maafkan ummi juga ya nak, karena ummi tidak peka dengan petunjuk2mu, yang meminta untuk keluar dari dalam perut. Qadarullah nak sayang. Allah lebih memilih Surga untukmu dibanding dunia yang tidak ada harganya ini. Sekarang bersenang-senanglah disana nak. Kami, abi ummi dan Ahnaf akan berusaha, berusaha dengan taufik dari Allah untuk ikut bersamamu di Surga tanpa perlu pembersihan. 😭 
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 😭😭


Surat III, tanggal 24 Oktober 2021

Anakku, hambanya Allah, bidadari kami, Adiba Ghaziyah. Sekarang, apa yang sedang kamu lakukan nak? Saat ummi bertanya seperti itu, yang terbayang hanya senyummu yang lebar penuh kebahagiaan. Tidak pantas untuk ummi bersedih dan larut didalamnya. Tak pantas pula ummi menyalahkan diri sendiri, karena ummi sendiri pun tak pernah berniat untuk "menyakitimu".

Anakku sayang, tahukah engkau mengapa namamu Adiba Ghaziyah? Abi memberi nama Adiba karena ingin kamu punya adab dan sopan santun yang luar biasa. Dan Allah kabulkan. Saat kita bertemu nanti, akhlakmu nak, adalah bimbingan dari Allah di Surga, akhlak penghuni Surga, sebuah keniscayaan bahwa adabmu berprestasi.

Dan nama terakhirmu, Ghaziyah adalah nama pemberian ummi, nak. Terlalu takut ummi kehilanganmu, sehingga yang ummi pinta adalah nama bermakna pejuang. Sekaligus mengikuti nama shahabiyah, ummu Syuraik yang diberi Allah air minum dari langit. Subhanallah! Maha Suci Allah! Lagi-lagi, Allah kabulkan makna nama itu. Engkau mampu berjuang nak menggapai Surga dan dibalas Allah dengan air susu dari sana. Tanpa sempat mencicipi ASI ummi... 

Anakku, Adiba. Sekarang giliran kakak pejuangmu nak yang harus abi ummi didik bersama petunjuk-petunjuk dari Allah yang Maha Pemurah, Pengasih dan Maha Penyayang, untuk ikut berkumpul di Surga kelak. 

Nenek kakekmu sangat mencintaimu, nak, dan berharap dapat ditarik masuk ke Surga olehmu dengan izin Allah. Abi... Dialah yang paling mengerti dirimu, nak. Abi tidak bersedih dan tidak larut padanya. Justru Abi menganggap ketiadaanmu adalah kabar gembira. MasyaAllah. Abi sanggup menghadirkan langsung perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, cinta pertama kita, dan membawa perasaan gembira itu kedalam dirinya. Abi memang pewaris Nabi. Ulama yang berpegang teguh diatas ajaran Allah, yang gerahamnya mencengkram kuat sunnah-sunnah NabiNya. Banggalah, nak!

Air mata ummi yang mengalir, bukan lah rasa sedih kehilanganmu. Ini adalah air mata rindu. Air mata kasih sayang ingin memelukmu, anak perempuanku sayang...


Makassar, Bukit Baruga. 
Back to Top