Tentang Melahirkan yang Tidak Bisa Dianggap Biasa

Maaf aku memotong artikel tentang MPASI. Hari ini pikiranku berkecamuk mengingat seorang istri shalehah syahid setelah melahirkan anak perempuannya. Dia bukan orang yang kukenal apalagi teman. 

Kisahnya terkuak manis ketika akhir hidupnya ditutup dengan syahadat. masyaAllah. Betapa indahnya akhir hidup dia. Syahid dan bersyahadat adalah tanda pasti keselamatan dirinya di akhirat.

Dia berhasil mengalahkan semua imaji-imaji titel dunia yang kucemburui beberapa waktu lalu. Allah membuka mata hatiku melalui kesyahidannya. Seakan mematahkan semua kemegahan dunia dengan satu tanda keselamatan saja, syahadat di akhir hayat.

Ya, melahirkan memang tidak pernah menjadi proses yang sepele.

Jujur saja, kadang aku melihat proses melahirkan ini adalah sesuatu yang tidak perlu dilebih-lebihkan. Kesannya sama dengan proses makan minum. Wajar dialami oleh semua makhluk berjenis kelamin wanita.

Meski aku sendiri sudah mengalami proses itu, namun mengingat afirmasi yang ditanamkan para bidan di YouTube bahwa melahirkan itu 'hal biasa' yang tidak perlu ditakuti, mindsetku jadi menganggapnya remeh. Aku tahu tujuan mereka mengatakan itu agar para ibu yang akan melahirkan tidak ketakutan, sehingga proses melahirkan dapat dijalani secara tenang, minim rasa sakit dan trauma sehingga menghasilkan pengalaman yang membahagiakan.

Namun jelas, tidak bisa kita pungkiri bahwa proses ini memang berada di antara gerbang hidup dan mati.

Sesaat setelah bayi keluar, keselamatan diri kita menjadi taruhannya. Plasenta yang menempel di rahim selama 9 bulan bagaikan akar kehidupan bagi si bayi. Akar ini harus keluar dengan bersih agar rahim dapat menutup bekasnya yang menganga dengan sempurna. 

Meski proses kontraksi itu amat menyakitkan, tapi kita yang mengalaminya patut bersyukur pada Allah sebab rahim masih mampu menutup lukanya sendiri.

Aku tidak tahu alasan teman adikku itu mengalami perdarahan karena apa. Namun, kebanyakan ibu melahirkan mengalami perdarahan karena rahim yang tidak berkontraksi. Atau masih ada sisa plasenta yang menempel di dalam.

We don't know.

Pada akhirnya, secanggih apapun ilmu kedokteran, ilmu Allah masih lebih jauh daripada yang bisa kita raih.

Kini, menyadari bahwa aku pun pernah berada di 'masa tenggang' seperti itu, tidak lagi pantas meremehkan proses melahirkan.

Aku masih ingat dengan jelas ketika bayi telah keluar dari rahim, lama aku merasa kantuk yang hebat. Terasa amat lama sebab aku harus menjaga kesadaran demi keselamatan diri sendiri. 

Kukira tantangan ini akan usai setelah masa observasi selama 2 jam selesai. Rupanya tubuhku perlu waktu untuk beradaptasi dengan hormon yang turun drastis, jaringan perut yang diiris, dan pembuluh darah yang belum stabil. 

Belum cukup sampai disitu. Aku juga harus kentut dan buang air besar sebagai tanda bahwa ususku mulai bekerja dengan normal. Sungguh membuatku takut.

Sayangnya, informasi perawatan diri pasca caesar kurang digalakkan oleh para bidan dan perawat. Aku tidak tahu bahwa korset sebaiknya tidak dibuka agar tidak menimbulkan perubahan aliran darah mendadak. 

Akibatnya, aku pingsan di toilet. 

Sebelumnya pandanganku sudah kabur sejak duduk di kloset hanya untuk mengeluarkan angin. Aku masih berusaha menghirup banyak oksigen agar tetap sadar untuk menyempatkan diri membersihkan bekas buang air. 

Aku tahu aku tidak akan sempat lagi keluar toilet dengan sadar. Maka dengan kesadaran yang tersisa, aku berteriak pada ummi agar memanggil suster sebab aku akan pingsan. 

Begitulah. Aku benar-benar harus banyak bersyukur pada Rabb pemberi kehidupan, Allah azza wa jalla. Aku juga harus menghargai kembali dengan penuh sukacita pada orang yang berhasil melewati masa kritis pasca melahirkan. 

Dan sekarang, kesyahidan teman adikku itu meninggalkan pertanyaan, amalan apakah yang membuat lidahnya ringan mengucapkan syahadat?