Sudah hampir 2 pekan lamanya aku tidak memegang smartphone. Bukan karena sedang detoks digital, karena toh aku masih mengakses internet dan game via iPad. Memang smartphone-nya saja yang lagi rusak. Aku tidak tahu apakah usia yang menyebabkan layarnya nge-flick tiap waktu atau ada part internalnya yang tidak asli lagi sehingga belum setahun kupakai, hp itu rusak.
Ya, aku membeli hp bekas tidak resmi dari platform facebook. Saat itu pikirku, lebih baik hp bekas daripada baru tapi fiturnya miskin. Di pixel 5 -oke, kita sebut merek saja-, kita masih mendapatkan free penyimpanan google foto unlimited. Belum lagi kualitas foto dan videonya ga kalah jauh dari iPhone. Makanya, saya berani meminang pixel ini yang asal usulnya tidak jelas.
Lalu, seperti yang sudah kukhawatirkan selama ini, sesuai dengan ghibah-an orang-orang di grup facebook, pixelku akhirnya memutuskan pensiun dini. Selama 7 bulan membersamai, aku rasa tidak ada perubahan berarti perihal produktivitas seperti yang aku harapkan sebelumnya. Tentu, selain pertimbangan kualitas foto dan penyimpanan, kuharap dengan hp ukuran compact yang usianya sudah tidak muda lagi, akan membantuku untuk lebih mindful dalam menggunakannya.
Memang benar itu terjadi. Tapi hanya sepersekian persen saja. Misalnya, aku tidak lagi menggunakan hp di toilet seperti dulu. Alasannya takut kemasukan air meski sepercik. Aku juga tidak lagi membaca komik sesuai dengan perjanjian yang aku buat sebelumnya. Selain itu, semua jenis entertainment masih kusambangi. Main game, nonton film. Ga ada yang beda.
Justru produktivitasku berkurang.
Sebelumnya dengan hp ukuran 6 inch, aku bisa menghasilkan banyak tulisan di blog ini. Membaca juga rajin. Banyak buku yang aku tamatkan selama menggunakan hp mainstream. Bedanya, ya karena hp baru, aku nggak takut untuk melakukan macam-macam. Kendali diri jauh lebih baik di hp tua. Tapi, ukuran compact ini justru menjadi kambing hitam untuk kemalasanku membaca dan menulis lagi.
Nah, setelah semua pengalaman itu, aku ‘naik kelas’ ke hidup tanpa smartphone. Meski tidak sepenuhnya lepas dari internet, intensitas untuk terdistraksi kuakui, jauh berkurang. iPad hanya kunyalakan untuk membalas pesan WhatsApp, menulis -seperti yang kulakukan sekarang, menonton video sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Hal-hal produktif yang biasanya difasilitasi smartphone, kini kembali ke metode konvensional: menulis jurnal.
