Apa Ini yang Disebut Bad Day?

Subhanallah. Baru pertama kali aku merasakan rentetan ujian selama 20 tahun hidup di dunia fana ini. Berturut-turut seakan aku mengalami yang orang-orang sebut 'bad day'.

Mulai hari Rabu kemarin, semenjak aku memutuskan untuk bergabung dengan TK yang jaraknya sangat jauh dari rumah orangtua (tempat aku tinggal sekarang), aku terus-terusan diuji oleh Allah. 

Pertama di waktu pagi, aku berencana bangun sebelum subuh mempersiapkan lauk untuk tinggal sehari di rumah nenek nanti.

Sekolah ini jarak tempuh ke rumah nenek yang kosong cuma 15 menit, jadi aku memutuskan untuk tinggal disana selama hari kerja. Namun, karena waktu tidurku tidak cukup 5 jam, aku malah bangun setelah orang-orang kembali dari masjid. 

Ya Allah... Sedihnya bukan main. Hajat banyak tapi kualitas ibadah masih dibawah standar. Mulai dari sinilah aku ketiban ujian hidup. Alhamdulillah 'ala kulli haal ya, haha.

Tanpa menyentuh makanan sama sekali, aku dan Ahnaf berangkat ke sekolah untuk menerima panggilan ngajar. Sebelum itu, aku harus membawa masuk barang pindahan ke rumah nenek. Kemudian aku ke ATM ambil uang untuk beli sarapan. Namun, karena Ahnaf tidak mau makan, ditambah waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat, aku memutuskan untuk melewatkan sarapan. 

Kupikir tidak masalah, kan aku bawa susu. Nanti setelah Dzuhur saja baru keluar cari makan. Duh, benar-benar pikiran yang mencerminkan kemalasan.

Nah, karena tidak sarapan + kurang tidur + anak-anak ricuh, aku jadi lemas dan sakit perut. Apesnya, toilet sekolah penuh. Aku ga bisa lagi berpikir apa-apa. Beruntungnya aku masih ingat beristighfar.

Alhamdulillah, Allah menolongku. Setelah merasa hajat usai, aku keluar toilet dan menemukan Ahnaf tertidur diatas keset. Menungguku. 

Ya ampun, nak. Aku segera memeluknya dengan erat, seiring perutku yang perlahan menjadi tenang dan tidak melilit lagi.

Kukira begitu.

Ternyata masih ada hajat yang belum usai. Aku tak pernah menyangka akan mengulang situasi ini. Karena sudah terlanjur menggendong Ahnaf yang terlelap, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja di ruang kelas untuk tidur. 

Pertama, aku sudah merasa tak sanggup lagi bila berjauhan dari toilet. Kedua, Ahnaf sangat menyadari keberadaanku. Kalau kelas yang ribut itu dipakai Ahnaf tidur, 100% dia akan terbangun dan mencariku.

Pilihan satu-satunya: BAB sambil menggendong Ahnaf. 

Nggak mudah. Sekali lagi, tidak mudah wan-kawan. Perutku tidak berhenti berdendang. Nampaknya aku masuk angin, atau maag kambuh mungkin. 

Setelah keluar dari toilet, seketika aku merasa lemas tak terkira. Ngantuk, lapar, lemas jadi satu. Dan sekolah belum juga berakhir.

Apakah aku dan Ahnaf akhirnya berhasil makan siang tepat waktu? Jelas tidak. Guru selalu pulang paling akhir. Jadi, kami semua mesti menunggu anak yang belum dijemput orangtuanya.

Selang 2 jam menunggu, akhirnya aku bisa duduk diatas motor bersama Ahnaf. Jam 2 siang belum makan apapun, bayangkan! Hujan masih rintik-rintik. Rencananya, aku mau ke rumah orangtua saja biar bisa makan enak dan gratis. Sayang sekali Allah punya rencana lain.

Di depan mata, aku melihat awan besar nan gelap menumpahkan isinya dengan deras. Dasarnya takdir, meskipun sudah tahu, aku tetap menembusnya. Apa ada yang lebih mengkhawatirkan dari perut anak kecil yang kosong sejak pagi lalu disapa hujan dan angin kencang? 

Tidak sampai 1 menit diguyur hujan deras, aku berubah pikiran untuk putar haluan. Terlalu dingin, amboiiiii! Aku khawatir sekali dengan Ahnaf dan perutku. Kuputuskan untuk singgah makan di warung lalu istirahat di rumah nenek.

Sesampainya di rumah nenek, memasukkan semua barang bawaan ke kamar Ummi menjadi urusan nomor 1. Pokoknya sebisa mungkin kurangi urusan keluar kamar. Aku takut soalnya. 

Rumah besar yang lama ditinggal kosong, pasti sudah ditempati makhluk lain. Untung sekali yang terbayang adalah masa-masa aku tinggal disini bersama suami, bukan imajinasi syaitan dan hewan melata. 

Setelah posisi kami aman dari imajinasi buruk, aku segera mengisi perut kami. Singkat saja, setelah makan aku memandikan Ahnaf, gelar karpet, membersihkan diri lalu rebahan.

Saat itu Ahnaf sempat rewel entah perihal apa lagi yang anakku permasalahkan. Karena sudah terlampau lelah, aku berteriak kencang sekali. Seperti melampiaskan semua keapesan hari ini padanya. 

Dengan rasa takut dirasuki setan karena marah-marah, aku segera memeluk Ahnaf. Meminta tolong padanya agar di hari yang mendung ini, kita tidur bersama saja melupakan apa yang terjadi.

Alhamdulillah, bangun tidur aku disambut oleh suhu tubuh yang panas. Aku maksudnya. Anakku sehat-sehat saja, alhamdulillah. 

Sembari menunggu hari berakhir, aku memikirkan kembali, apa sebab aku mengalami semua ini. Sepertinya ada yang tidak menyetujui aku untuk tinggal di rumah nenek.

Tanpa perlu pikir panjang, aku yakin orang tuaku lah yang tidak meridhainya. Sebab, sebelum pergi, mereka terlihat setengah hati menerima salamku. 

Meski aku sudah mendapat izin suami, ridha Allah masih terletak pada ridha orang tua. Sudah sejak kecil aku menyadarinya. Saat mereka tidak setuju, aku pasti ketiban masalah.

Jadi, kalau masih tinggal dengan orang tua, suami nun jauh disana, lebih baik patuhilah mereka. Aku memang sudah usia dewasa, tapi ternyata kepatuhan pada orang tua tidak berbatas usia. Kecuali bila aku benar-benar tinggal dengan suami, maka suamilah yang patut kuturuti perintahnya. 

Lesson learned.