Begini, kemarin, aku sudah membuat prahara. Pemicunya itu bayi 2 tahunku, Ahnaf. Seperti gelombang tsunami, yang awalnya surut tak nampak kelakuan yang menguji kesabaran, tiba-tiba saja Ahnaf bertingkah super menyebalkan sehingga moodku hari itu, ikut tersapu arus.
Latar Belakang Masalah
Aku yang awalnya happy-happy saja, tiba-tiba disodorkan perilaku memberontak dari Ahnaf. Perasaan jijik memenuhi diriku sehingga emosiku tak dapat kukendalikan lagi. Serta merta kulampiaskan kemarahanku itu pada orang lain di WhatsApp, dengan kalimat yang kalau dibaca, pasti membuat perasaan tidak enak.
Dan ya begitulah yang terjadi.
Aku tak sempat menghapus pesannya. Padahal biasanya kalau sudah curhat, segera kuhapus pesan itu. Tapi kali ini tidak.
Ya, sudah takdir. Tentu skenario Allah lebih baik dari yang aku inginkan. Qadarullah wa maasyaa fa'ala.
Keesokan harinya, suamiku mulai menunjukkan gelagat tidak enak. Aku yang kepekaannya seperti indra penciuman predator, menyadari bahwa dia pasti sudah membuka pesan itu. Saking kecewanya ia, aku diminta untuk pulang ke rumah orangtua. Sementara dia tetap disini, di rumah mertua untuk merawat keluarga yang sakit.
Jujur, aku sangat lemah terhadap permusuhan. Apalagi yang mendiamkan itu suami. Segera kuminta kelapangan hatinya untuk memaafkanku dengan berurai air mata. Hei, itu bukan senjata! Aku menangis karena ikut merasakan sakitnya hati dia. Meskipun benar, dibumbui pula oleh syaitan bahwa aku tidak sepenuhnya bersalah. 🙄
Akarnya tuh Disini
Sebagai ibu hamil yang punya standar kebersihan tinggi sejak kecil, saat aku dihadapkan dengan lingkungan kampung, dimana segalanya masih tradisional. Termasuk toilet tanpa kloset. Dalam keadaan perut besar, aku harus membersihkan sisa-sisa najis Ahnaf yang kalau menunduk, posisi perut terjepit karena kepala merendah sampai lutut. Belum cukup sampai situ, Ahnaf bahkan memainkan air yang tergenang di sekitar kakinya. Oke, di sekitar kakinya. Yang masih ada sisa air najis belum tersiram. 🤲🏻
Oh Allah. Tanpa bisa kukendalikan, tanganku bergerak duluan memukul Ahnaf. 😭 Hanya sekali, tapi berhasil membuat Ahnaf meniru perilaku-ku. 😭 Saat itu juga dia copy, memukulku balik yang sukses membuatku sakit hati. Senjata makan tuan. Hah.
Lesson Learned
Tapi yang sangat aku syukuri, dari masalah itu, Allah memberiku pelajaran untuk selalu memperbarui niat. Bila niatku murni karena Allah, ingin meraih keridhaanNya melalui proses membersihkan najis dan bersabar ketika Ahnaf beras di fase mengeksplor apapun, tentu hatiku tetap tentram. Moodku juga terjaga kestabilannya.
Semenjak itu, aku mulai berusaha mengambil posisi tenang sebelum melakukan sesuatu. Menguatkan kembali, atas tujuan apa aku melakukan ini itu? Kuupayakan untuk menghadirkan Allah di setiap langkah. Merasa diawasi olehNya, dan berniat meraih ridhaNya.
Buah yang kudapat sangaaaat manis. Aku tidak lagi mudah dipancing emosi. Apalagi Allah memberiku bonus ilmu parenting tentang perilaku Ahnaf di grup Whatsapp. MasyaAllah. Rasanya beda sekali. Pukulan dan tatapan menantang dari Ahnaf, akhirnya terlihat lucu dan normal-normal saja. Padahal sebelum itu, aku sangat kecewa dan tak mampu memberikan kebaikan yang tulus untuk Ahnaf. Maha Baiknya Allah. 😭
Kesimpulan
Niat rupanya mengambil peran besar terhadap mood. Kalau niatnya untuk Allah, maka guncangan apapun tak mampu merobohkan langkah kita. Emosi pun terkendali. Menjalani hidup jadi lebih mudah karena tak mengharapkan apa-apa lagi pada manusia, hanya menginginkan kebaikan dari Allah dan tentu akan memunculkan kepasrahan kita juga atas keputusanNya.

